From Rasulullah with Love

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Masih dalam rangka memperingati (-bukan merayakan-) hari lahirnya Rasulullah Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal, yang bertepatan dengan hari ini, Kamis (24-Jan-13), maka hari ini adalah chapter spesial, yaitu:

“From Rasulullah With Love”

Ceramah “From Rasulullah With Love” yang disampaikan oleh ustadz Abi Makki adalah untuk menjawab 3 pertanyaan mendasar:

1 Apakah Rasulullah SAW mencintai kita?

2 Bagaimana, seperti apa kita harus mencintai Rasulullah SAW?

3 Mengapa dan apa fungsinya/untungnya kita mencintai Rasulullah SAW?

Jawabannya akan ditemukan dalam ceramah ustadz Abi Makki

–cuplikan salah satu episode Sirah (cerita) Nabawiyah yang dikisahkan oleh ustadz—

Suatu malam, Rasulullah SAW memanggil Abdullah bin Mas’ud

“Ya Abdullah bin Mas’Ud”

“Ada apa ya Rasulullah”

“Tolong kau bacakan beberapa ayat (Al Qur’an) di hadapanku”

“Ya Rasulullah, aku harus baca Al Qur’an sementara Al Qur’an ini diturunkan kepadamu?”

Abdullah bin Mas’Ud ga pede untuk membaca Al Qur’an di hadapan Rasulullah SAW,

secara Rasulullah SAW adalah yang mendapatkan Al Qur’an

“Aku ingin dengar Al Qur’an selain daripada lisanku. Kau bacalah”

Abdullah bin Mas’Ud ini adalah orang yang paling pandai dan suaranya baik ketika membaca Al Qur’an.

“Baik ya Rasulullah. Surat apa?”

“Silakan kau baca surat apa”

Lalu membacalah Abdullah bin Mas’ud.

Dibacanya Surat An Nisa, dari ayat ke-1 dan ayat selanjutnya.

sampaialh pada suatu ayat yang berbunyi, (artinya)

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”

(QS An Nisa ayat 41)

Begitu membaca ayat ini, Rasulullah SAW berkata,

“Cukup cukup, jangan diteruskan membacanya. Sudah cukup cukup, berhenti berhenti..”

Abdullah bin Mas’ud mengakhiri bacaannya, begitu melihat wajah Rasulullah SAW,

ternyata Rasulullah SAW sudah berderai air matanya.

Abdullah bin Mas’ud bertanya,

“Apa yang membuat Anda menangis ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW menjawab,

“Bagaimana aku tidak menangis? Al Qur’an yang barusan ini membicarakan tentang aku… tentang bagaimana kelak aku menjadi saksi bagi kalian yang tidak mengakui kekeliruan-kekeliruannya.”

Di situlah Rasulullah SAW tidak pernah nyenyak tertidur, karena ingat akan umatnya

Di situlah Rasulullah SAW setiap sholat, berdoa, “Allahuma ummatii ummatii ummatii..”

“Ya Allah, selamatkanlah umatku, umatku, umatku”

Subhanallah.. Betapa cintanya Rasulullah SAW kepada kita..

Lalu Allah menjawab doa Rasulullah SAW tersebut. Apa jawabannya?

Silakan selengkapnya menyimak dalam rekaman ceramahnya dalam format mp3.

File bisa didownload atau streaming dari 4shared:

http://www.4shared.com/mp3/NMsG9v2V/abi_makki_-_from_rasulullah_wi.html

Semoga bermanfaat 🙂

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Advertisements

Sirah Nabawi -part 21- Fitnah Kaum Munafik

Episode 21.3
Chapter: Fitnah Kaum Munafik

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Sirah Nabawi -part 21- Ghoswatul Ajaib

Episode 21.2
Chapter: Ghoswatul Ajaib

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Di antara tawanan terhadap Bani Musthaliq itu ada seorang wanita pemimpini mereka, namanya Juwairiyah binti Al-Harits. Dia dibebaskan oleh Rasulullah saw, yang serta merta masuk Islam begitu melihat beliau.

“Saya mimpi melihat bulan purnama datang dari Mekkah ke Madinah lalu ke Bani Musthaliq lalu bulan purnama itu berada di sampingku,” kata Juwairiyah.

Rasulullah saw mengerti bahwa itu adalah perintah dari Allah untuk menikahinya.

Dengan pernikahan itu, para sahabat membebaskan semua tawanan dari Bani Musthaliq, lalu mereka masuk Islam. Hal ini menjadikan Juwairiyah sebagai wanita yang paling banyak memberikan berkah kepada kaumnya.

Ini adalah keajaiban berikutnya dalam peristiwa Perang Bani Musthaliq, sehingga peristiwa ini disebut Ghoswatul Ajaib, karena ada keanehan-keanehan.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/HhIAaFUg/sirah_nabawi_21_peristiwa_ghos.html

Sirah Nabawi -part 21- Perang Bani Musthaliq

Episode 21.1
Chapter: Perang Bani Musthaliq

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Peristiwa Perang Bani Musthaliq ini terjadi pada bulan Syaban tahun ke-6 Hijriah. Latar belakang peperangan ini adalah karena Rasulullah saw mendapat informasi bahwa pemimpin Bani Musthaliq, Al Harits bin Abu Dhirar menghimpun kaumnya untuk memerangi kaum Muslim.

Rasulullah saw segera bereaksi dengan memerintahkan Buraidah bin al-Hushaib untuk mencari kebenaran berita tersebut. Ternyata, kabar itu benar.

Pasukan perang sebanyak 700 orang langsung disiapkan. Sementara ada segolongan orang-orang munafik yang juga ikut bergabung bersama beliau. Mereka tidak pernah bergabung dalam peperangan sebelumnya.

Bani Musthaliq adalah cabang dari Bani Khuza’ah. Semua pecahan Bani Khuza’ah berada di barisan Rasulullah saw. Hanya Bani Musthaliq yang tak mendukung Rasulullah saw. Mereka berada di pihak Quraisy.

Rasulullah saw bersama pasukannya meninggalkan Madinah, memacu kuda dengan kecepatan tinggi. Mereka ingin segera menyerang Bani Musthaliq. Sementara itu, orang-orang Bani Musthaliq telah sampai di mata air Muraisi dari arah Qudaid ke pantai. Mereka beristirahat di sana beberapa saat.

Rasulullah saw memerintahkan untuk melancarkan sekali serangan secara serentak. Karena ketakutan, Bani Musthaliq menyerah begitu saja. Kaum Muslim menang telak dan memperoleh harta rampasan perang serta tawanan.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/HhIAaFUg/sirah_nabawi_21_peristiwa_ghos.html

Sirah Nabawi -part 20- Ziarah ke Makam Ibunda

Episode 20.3
Chapter: Ziarah ke Makam Ibunda

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Dalam perjalanan pulang kembali ke Madinah dari Bani Lihyan, Rasulullah saw berhenti di suatu kuburan tua.

Beliau berhenti lalu menangis, dan menangis terisak-isak, sampai napasnya tersengal-sengal.

Semua sahabat heran, ada apa dengan Rasulullah saw? Tidak pernah beliau menangis seperti itu.

Maka bertanyalah Umar bin Khaththab, “Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda menangis di tempat ini?”
“Ini adalah kuburan ibuku,” jawab beliau.

Masih ingat kan di bagian awal serial sirah nabawi ini yang mengisahkan wafatnya ibunda beliau dalam perjalanan pulang dari Madinah menuju ke Mekkah.

“Lalu kenapa kau menangis?”
“Karena ketika aku minta ijin kepada Allah untuk berziarah ke makam beliau, aku diijinkan. Tapi ketika aku meminta kepada Allah untuk mengampuni ibuku, Allah tidak mengijinkannya. Itu yang membuatku sedih,” maka beliau menangis.

Saat itu para sahabat menunggu sampai beliau puas ziarahnya, “Ya Rasulullah, apakah seorang Rasul harus begini?”
“Ini adalah tangisan seorang anak untuk seorang ibu,” manusia biasa beliau ini yang punya rasa sedih juga, menangis juga, Subhanallah..

Perang Bani Lihyan itu terjadi pada tahun ke 6 Hijrah, usia beliau sekitar 58 tahun sedangkan ibunda beliau wafat ketika beliau masih berusia sekitar 6 tahun, sudah 52 tahun berlalu dan baru kali ini beliau ziarah kuburnya. Maka wajar jika beliau bersedih.

Hak mata untuk mengeluarkan air mata, hak hati untuk bersedih, kesedihan itu wajar, yang tidak boleh itu adalah lisan untuk meratap.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link: http://www.4shared.com/mp3/79P6wHgS/sirah_nabawi_20_serang_balik_k.html

 

Sirah Nabawi -part 20- Perang Bani Lihyan

Episode 20.2
Chapter: Perang Bani Lihyan

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Masih ingat dengan peristiwa Ar-Raji’? (Episode 16.5, Chapter: Ekspedisi Raji’) Saat itu, Bani Lihyan mengkhianati sepuluh sahabat Rasulullah saw dan membunuh para sahabat itu. Setelah itu, Bani Lihyan berkeliaran dari Hijaz hingga perbatasan Asafan.

Tindakan biadab mereka tentu saja tak bisa dibiarkan.

Rasulullah saw sebenarnya ingin menyerang mereka yang telah bertindak kejam kepada para sahabatnya. Namun, beliau menundanya karena masih menghadapi ancaman kaum musyrik. Saat itu, kaum Muslim tengah bersiap menghadapi Perang Ahzab yang menguras fisik dan pikiran.

Setelah Perang Ahzab dan Bani Quraizhah, Rasulullah saw baru memutuskan untuk menyerang mereka karena merasa ancaman terhadap kaum Muslim telah berkurang.

Pasukan perang disiapkan. Madinah diamanahkan kepada Ibnu Ummu Makhthum.

Tepat pada bulan Rabiul Awal tahun ke-6 Hijriah, sejumlah 200 sahabat diriingi 20 penunggang kuda berangkat menuju tempat Bani Lihyan. Rasulullah saw sendiri yang memimpin pasukan ini, maka ini disebut Ghoswah Bani Lihyan, karena beliau ikut di dalamnya.

Rasulullah saw memacu kudanya hingga tiba di Ghuran, suatu lembah yang terletak antara Amaj dan Usfan. Di tempat itulah para sahabat Rasulullah saw dibunuh Bani Lihyan.

Raut duka terpancar dari wajah Rasulullah saw. Sayup-sayup terdengar doa dari mulut beliau, “Allahummaghfirlahum warhamhum..” Rasulullah saw tinggal di tempat itu selama dua hari.

Orang-orang Bani Lihyan segera melarikan diri ke puncak-puncak gunung ketika mengetahui kedatangan kaum Muslim. Para sahabat mengejar mereka, tetapi tak berhasil menangkap satu orang pun.

Rasulullah saw lalu pergi ke Usfan dan mengutus sepuluh orang penunggang kuda pergi ke Kura al-Ghamim. Tujuannnya untuk menyampaikan berita kaburnya orang-orang Bani Lihyan kepada kaum Quraisy sehingga mereka menjadi ketakutan.

Setelah itu, beliau beserta pasukannya kembali ke Madinah. Tercatat, selama 14 hari mereka meninggalkan Madinah.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link: http://www.4shared.com/mp3/79P6wHgS/sirah_nabawi_20_serang_balik_k.html

Sirah Nabawi -part 20- Pasukan Muhammad bin Maslamah

Episode 20.1
Chapter: Pasukan Muhammad bin Maslamah

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..
Seusai perang Ahzab dan Bani Quraizhah, Rasulullah saw mengerahkan satuan-satuan pasukan untuk memberikan pelajaran kepada beberapa kabilah yang selama itu selalu mengganggu keamanan.

Pengiriman pasukan ini terbagi menjadi 2 istilah yaitu:

Sariyah adalah suatu pertempuran namun Rasulullah saw tidak ikut.

Ghoswah adalah pertempuran yang beliau ikut di dalamnya.

Pasukan yang pertama kali dikirim beliau adalah pasukan yang dipimpin oleh Muhammad bin Maslamah ke Bani al-Qaratha’.

“Beri pelajaran kepada Bani al-Qaratha, karena mereka telah mencoba menggempur kita.”

Maka berangkatlah pasukan itu. Sesampainya di sana, ternyata Bani al-Qaratha sudah ketakutan duluan, mereka sudah melarikan diri, meninggalkan harta benda mereka.

Maka harta benda tersebut menjadi rampasan perang bagi kaum Muslim yang dipimpin oleh Muhammad bin Maslamah.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Madinah, mereka menemukan seseorang yang sedang tertidur.

“Tangkap orang itu, bawa ke Madinah. Kita tidak tahu dia di pihak mana. Nanti kalau ternyata dia di pihak musuh yang ikut menggempur di Perang Ahzab, kita minta tebusan. Kalau bukan, kita bebaskan dia,” kata Muhammad bin Maslamah.

Setibanya di Madinah, Muhammad bin Maslamah melapor kepada Rasulullah saw mengenai Bani al-Qaratha yang sudah melarikan diri serta seoranga tawanan yang mereka bawa.

“Allahu Akbar! Kalian tidak tahu siapa laki-laki ini?” tanya Rasulullah saw.

“Tidak tahu, ya Rasul.”

“Dia adalah ketuanya Bani Hanifah,” kata beliau, Bani Hanifah termasuk dalam pasukan Ahzab, “Namanya Tsumamah bin Utsal Al-Hanafy”

“Penjarakan dia di dekat masjid,” kata beliau.

Maka di samping masjid Nabawi, dibuat sebuah bangunan kecil untuk penjaranya Tsumamah.

“Biarkan dia mendengar sahabat baca Al Qur’an, sholat dan lain-lain.”

Setiap pagi beliau menghampiri Tsumamah, “Bagaimana kabarmu, Tsumamah?”

“Ya Muhammad, kalau kau bunuh aku, di belakangku ada ribuan pasukan yang berani, prajuritku, mereka akan menggempur Madinah. Hati-hati! Tapi kalau kau membebaskan aku, maka aku adalah orang yang pandai membalas budi,” kata Tsumamah. “Minta saja tebusan, berapapun akan kuberi, kau boleh minta sebanyak-banyaknya,” saking kayanya Tsumamah, ketua Bani Hanifah.

Rasulullah saw senyum, masuk ke masjid, sholat lalu pulang.

Esoknya, beliau menyapa kembali Tsumamah, “Bagaimana kabarmu, Tsumamah?”

Tsumamah menjawab sama seperti kemarin.

Setelah hari ke-3, beliau bertaya kabar lagi kepada Tsumamah.

Tsumamah masih menjawab yang sama seperti kemarin.

“Aku maafkan kamu,” kata Rasulullah saw. Tsumamah dibebaskan.

Tsumamah kaget, “Muhammad, sebentar. Sejak menit pertama saya di sini, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, melihat akhlak kaum Muslim, dan semuanya,” Tsumamah, seorang pimpinan kafir, duduk selama 3 hari di dekat masjid, terpaut hatinya dengan Islam. Subhanallah..

“Muhammad, dulu tidak ada wajah yang paling aku benci kecuali wajahmu. Hari ini, tidak ada wajah yang paing ku cintai, kecuali wajahmu. Tidak ada agama yang paing aku cintai, kecuali agamamu,” Tsumamah bersyahadat di hadapan Rasulullah saw, Subhanallah..

Hanya duduk 3 hari di dekat masjid telah membuat Tsumamah terpikat dengan Islam.. Itulah hidayah Allah.. Subhanallah..

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link: http://www.4shared.com/mp3/79P6wHgS/sirah_nabawi_20_serang_balik_k.html

Sirah Nabawi -part 19- Hikmah Perang Bani Quraizhah

Episode 19.7
Chapter: Hikmah Perang Bani Quraizhah

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Hikmah Perang Bani Quraizhah

1. Kaum Muslim boleh membunuh siapa pun yang membatalkan perjanjian secara sepihak, memberontak, atau akan melakukan kudeta kepada pemerintahan yang sah. Ini masih dipraltikkan Negara-negara modern kepada para pengkhianat Negara.

2. Dalam persoalan-persoalan yang bersifat furu’iyyah (cabang), kaum Muslim disyariatkan untuk berijtihad. Hal ini telah dicontohkan para sahabat saat mereka menafsirkan sabda Nabi saw, “Hendaknya, jangan ada satu pun di antara kalian yang shalat Ashar ataupun Dhuhur kecuali di Bani Quraizhah.”
Para sahabat berbeda pendapat tentang hal ini. Namun, Rasulullah saw tidak menyalahkan pendapat yang berkembmang karena itu bukan hal yang utama atau prinsip dalam Islam.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/BxHv-vn2/sirah_nabawi_19_akhir_khandaq.html

Sirah Nabawi -part 19- Putusan bagi Bani Quraizhah

Episode 19.6
Chapter: Putusan bagi Bani Quraizhah

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Pengepungan terhadap Bani Quraizhah masih terus berlangsung. Akhirnya mereka menyerah. “Kami pasrah padamu, Muhammad. Mau diapakan saja kami pasrah,” kata mereka.

Rasulullah saw lalu meminta suku Aus, yang merupakan sekutu Bani Quraizhah, untuk menentukan keputusannya.

Ingat peristiwa Bani Qainuqa’ yang melanggar perjanjian, lalu suku Khazraj yang merupakan sekutu Bani Qainuqa’ lah yang menentukan keputusannya, sehingga akhirnya Bani Qainuqa’ diusir dari Madinah. (Chapter: Qainuqa’ Melanggar Perjanjian)

“Ya Rasulullah, engkau telah berbuat baik kepada teman-temannya Khazraj, yakni Bani Qainuqa’. Maka kami mohon kepadamu agar kau berbuat baik pula kepada teman-teman kami, yakni Bani Quraizhah,” pinta mereka.

“Bagaimana kalau seandainya hukum untuk Bani Quraizhah ini kita serahkan kepada Sa’ad bin Mu’adz?” tanya Rasulullah saw, karena pemimpin Aus ini adalah Sa’ad bin Mu’adz.

“Kami rela,” kata mereka serentak.

Sa’ad bin Mu’adz tidak ikut berperang di Bani Quraizhah ini. Dia berada di Madinah karena mendapat luka di urat lengannya ketika Perang Khandaq.

Beberapa orang Muslim segera menjemput Sa’ad dengan menunggang keledai. Tubuh Sa’ad masih penuh luka.

Dalam keadaan terluka seperti itu, Sa’ad berdoa, “Ya Allah, seandainya setelah ini ada perang lagi dengan Quraisy, maka jangan kau cabut nyawaku. Tapi kalau seandainya, tidak ada lagi perang dengan Quraisy, aku rela mati. Tapi ya Allah, jangan kau cabut nyawaku sebelum aku puas melihat nasib Bani Quraizhah.”

Ketika dia dibawa mendekati Rasulullah saw, beliau bersabda, “Berdirilah untuk pemimpin kalian!”

Mereka pun berdiri dan mengelilingi Sa’ad dari kedua sisinya. Kemudian dengan serempak mereka berujar, “Wahai Sa’ad, berbuat baiklah kepada rekan-rekanmu!”

Sa’ad diberitahukan bahwa sesungguhnya orang-orang Yahudi telah pasrah pada keputusannya.

“Aku menghukumi mereka, Bani Quraizhah, bahwa orang-orang Yahudi yang laki-laki harus dibunuh, sedangkan para wanita dan anak-anak dijadikan tawanan,” kata Sa’ad.

“Engkau telah membuat keputusan berdasarkan keputusan Allah dari atas langit yang tujuh,” ujar Rasulullah saw begitu mendengar keputusan Sa’ad.

Subhanallah..

Setelah keputusan Sa’ad bin Mu’adz ini, Bani Quraizhah segera didatangkan ke Madinah. Sebuah parit digali di dalam pasar Madinah untuk tempat eksekusi mereka. Sekelompok demi sekelompok digiring ke pinggir parit itu lalu leher mereka dipenggal dan dimasukkan ke dalam parit.

Di antara mereka terdapat Huyyai bin Akhthab, pemimpin Bani Nadhir. Dia adalah salah satu di antara 20 tokoh Yahudi yang memberi semangat orang-orang Quraisy dan Ghathafan untuk melancarkan Perang Ahzab. Dia juga yang menghasut Bani Quraizhah untuk berkhianat kepada Rasulullah saw.

Ada beberapa orang Yahudi yang masuk Islam sebelum turunnya keputusan. Mereka ini tidak mendapat hukuman apa pun. Sementara sebagian lagi menyerahkan diri juga tidak mendapat hukuman. Perlakuan yang manusiawi tersebut membuat mereka akhirnya masuk Islam.

Bagaimana dengan Sa’ad bin Mu’adz yang berdoa agar umurnya dipanjangkan hingga melihat kemenangan kaum Muslim atas Bani Quraizhah?

Setelah perang usai, Sa’ad yang sempat datang ke medan perang Bani Quraizhah untuk dimintai keputusan, kembali menuju kemahnya di dalam Masjid Nabi. Sejak selesai Perang Ahzab, dia dirawat di sana untuk menyembuhkan lukanya.

Namun akhirnya Sa’ad wafat tak lama setelahnya. ‘Arasy Allah berguncang disebabkan oleh kematiannya. Subhanallah..

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link: http://www.4shared.com/mp3/BxHv-vn2/sirah_nabawi_19_akhir_khandaq.html

Sirah Nabawi -part 19- Tiang Pengampunan

Episode 19.5
Chapter: Tiang Pengampunan

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Dengan dipimpin Rasulullah saw, pasukan Muslim mengepung Bani Quraizhah. Kedatangan pasukan Muslim mengejutkan orang-orang Bani Quraizhah. Mereka sama sekali tak menduga kaum Muslim akan membawa pasukan yang begitu banyak.

Lalu Allah meniupkan rasa takut pada jiwa dan hati mereka. Mereka berlindung di balik benteng dan tidak berani menampakkan diri. Kaum Muslim mengepungnya dengan sangat ketat.

Orang-orang Bani Quraizhah berunding untuk memutuskan bagaimana cara menghadapi pengepungan tersebut. Akhirnya disepakati mereka akan meminta pertimbangan salah satu sekutunya dari kalangan Muslim.

Mereka meminta Rasulullah saw mengirimkan orang yang dimaksud, “Ya Muhammad, kirimkan jubir kaum Muslim untuk musyawarah dengan kami.”
“Siapa yang kalian minta?”
“Abu Lubabah”
Sebelum Islam datang, Abu Lubabah ini adalah temannya Bani Quraizhah.

Permintaan itu dipenuhi Rasulullah saw. Ketika Abu Lubabah tiba di Bani Quraizhah, dia disambut dengan sukacita.

“Hai Abu Lubabah, kalau seandainya kami menyerah, kira-kira hukuman kami apa?”
Abu Lubabah tidak menjawab namun memberikan isyarat tangannya pada lehernya, yang berarti bahwa mereka akan dikenai hukuman mati. Kaget Bani Quraizhah.

Abu Lubabah kembali. Namun, setelah itu dia sadar bahwa isyaratnya itu berarti dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Dia merasa “sok tahu” saat memberi jawaban kepada Bani Quraizhah, kenapa tadi tidak dijawabnya ‘itu adalah tergantung keputusan Rasulullah,’ kan lebih aman begitu.

Abu Lubabah merasa bersalah sehingga tidak kembali menemui Rasulullah saw, namun dia bergegas menuju Masjid Nabi di Madinah. Di sana, dia mengikatkan dirinya pada salah satu tiang masjid.
Ikatan itu, katanya, tak boleh dilepas kecuali oleh tangan Rasulullah saw.

Kabar ini sampai kepada Nabi saw, “Ketahuilah jika dia datang menemuiku pasti aku memaafkannya. Adapun jika melakukan apa yang dia lakukan, kami akan biarkan hingga Allah memutuskan perkaranya,” kata Nabi saw mengomentari apa yang terjadi pada Abu Lubabah.

Setelah terikat di masjid selama enam hari, turunlah firman Allah SWT memberikan pengampunan pada Abu Lubabah, “Jangan sampai ada orang yang mencampur-baurkan antara hak dan batil, namun sudah Aku ampuni.”

Kini tiang tempat Abu Lubabah mengikatkan diri terkenal sebagai tiang pengampunan, tiang Maghfirah yang berada di dalam Raudhah Masjid Nabawi Madinah.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link: http://www.4shared.com/mp3/BxHv-vn2/sirah_nabawi_19_akhir_khandaq.html

Sirah Nabawi -part 19- Perbedaan Ijtihad

Episode 19.4
Chapter: Perbedaan Ijtihad

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Usai sudah Perang Ahzab yang menguras tenaga serta pikiran kaum Muslim. Rasulullah saw melangkah pulang ke rumah Ummu Salamah, istri beliau.

Setibanya di dalam rumah, beliau menyimpan senjata dan pakaian perangnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, ternyata malaikat Jibril.

Jibril memerintahkan beliau untuk segera menyerbu kaum Yahudi Bani Quraizhah. “Aku akan berangkat di depanmu. Akan kuguncang benteng mereka dan kususupkan ketakutan ke dalam hati mereka,” kata Jibril.

Rasulullah saw segera mengenakan kembali pakaian perangnya, lalu mengumpulkan kaum Muslim.

Kemudian, untuk memastikan perintahnya agar dilaksanakan secepatnya, dia berpesan kepada para sahabat, “Janganlah sholat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.”

Ini berkaitan dengan Hukum Fiqih, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

Dalam perjalanan menuju Bani Quraizhah, terjadi perbedaan dalam menafsirkan pesan Rasulullah saw tentang sholat Ashar tersebut.

Waktu sholat Ashar tiba ketika mereka masih di tengah perjalanan.

Sebagian sahabat mengatakan, “Ingat tidak pesan Nabi tadi, jangan sholat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Jadi jangan sholat Ashar sekarang, nanti saja ketika sudah sampai di Bani Quraizhah.

Sebagian sahabat yang lain mengatakan, “Bukan seperti itu. Maksud Rasulullah saw adalah kita jangan berleha-leha di jalan.”

Akhirnya di antara mereka ada yang sholat di tengah perjalanan tersebut dan ada pula yang mengakhirkannya hingga mereka tiba di Bani Quraizhah.

Masalah tersebut diadukan kepada Rasulullah saw.

“Kami memahami bahwa maksudnya adalah jangan berleha-leha di jalan. Tapi kalau tiba waktu sholat, ya tetap sholat, maka kami sholat di tengah perjalanan,” ujar yang sholat di tengah perjalanan.

“Kami memahami bahwa perintahnya adalah jelas, ‘jangan sholat Ashar kecuali di Bani Quraizhah’, tidak perlu ditafsirkan yang lain. Maka kami baru sholat Ashar ketika sampai di Bani Quraizhah, walaupun sampainya Maghrib,” ujar yang mengakhirkan sholatnya di Bani Quraizhah.

“Dua-duanya benar,” kata Rasulullah saw. Yang satu memahami secara makna, satunya lagi memahami secara harfiah saja. Benar dua-duanya, tidak ada yang salah.

Beliau tidak menyalahkan seorang pun di antara mereka. Ini merupakan ijtihad para sahabat menjalankan perintah Nabi saw.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link: http://www.4shared.com/mp3/BxHv-vn2/sirah_nabawi_19_akhir_khandaq.html