Sirah Nabawi -part 18- Pengkhianatan Bani Quraizhah

Episode 18.3
Chapter: Pengkhianatan Bani Quraizhah

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Pertempuran belum usai. Terbunuhnya ‘Amr tidak membuat pasukan Ahzab menyerah. Mereka tetap melakukan pengepungan, bahkan sebuah strategi licik disiapkan untuk mengalahkan kaum Muslim.

Mereka berencana membujuk Bani Quraizhah, saudara Yahudi mereka, untuk mengkhianati kaum Muslim dengan cara melanggar perjanjian. Seperti diketahui, Bani Quraizhah adalah salah satu kabilah yang terikat perjanjian dengan kaum Muslim setelah Nabi saw hijrah ke Madinah.

Usulan itu datang dari orang-orang Yahudi Bani Nadhir. Ide tersebut segera dijalankan dengan mengirimkan utusan bernama Huyyai bin Akhthab. Ia mendatangi pemimpin Bani Quraizhah, Ka’ab bin Asad al-Qurazhi dan membujuknya untuk bergabung. Bujuk rayu Huyyai berhasil meluluhkan Bani Quraizhah.

“Kalian tahu tidak? Di luar sudah ada pasukan Ahzab yang siap menyerang Muhammad. Pasukan ini ada dari Quraisy, Kinanah, Bani Asad, Bani Asyja’ dan Bani Ghathafan yang lain,” kata Huyyai.
“Bagus, kalau begitu kita batalkan perjanjian dengan Muhammad,” kata Bani Quraizhah.

Inilah Yahudi. Ketiga kabilah terbesar Yahudi di Madinah tidak ada yang benar, Bani Qainuqa’ yang melanggar perjanjian, Bani Nadhir yang hendak membunuh Rasulullah saw, dan kini Bani Quraizhah yang berkhianat dengan mendukung pasukan Ahzab untuk menyerang Rasulullah saw. Na’udzu billah..

Kabar pengkhianatan itu terdengar oleh Rasulullah saw. Beliau langsung menugaskan Zubair bin ‘Awwam untuk memastikannya. Selang beberapa waktu, Zubair menemui Rasulullah saw. Dia membenarkan berita pengkhianatan itu.

Nabi saw segera mengambil dua keputusan strategis.

Pertama, mengirim Maslamah bin Aslam bersama 200 prajurit dan Zaid bin Haritsah dengan 300 prajurit untuk menjaga keluarga kaum Muslim di bagian selatan Madinah. Pengiriman ini sangat tepat karena saat kaum Muslim mengetahui Bani Quraizhah merusak perjanjian, saat itu juga menjadi hari yang genting.

Mengapa?
Pasukan Muslim sedang berada di bagian utara Madinah, sedangkan Bani Quraizhah di selatan Madinah. Posisi ini mengancam keselamatan wanita-wanita dan anak-anak kaum Muslim yang diungsikan ke perkampungan Bani Haritsah. Mereka akan dengan mudah dihabisi Bani Quraizhah sebab tidak ada pasukan Muslim yang menghalangi.

Kedua, Rasulullah saw mengutus Sa’ad bin Mu’adz, Sa’ad bin ‘Ubadah, ‘Abdullah bin Rawahah, dan Ibnu Jubair mendatangi Bani Quraizhah. Keempatnya diutus untuk menguatkan berita pengkhianatan Bani Quraizhah. Mereka juga diminta mengadakan pembicaraan dengan Bani Quraizhah. Mereka terkejut karena orang-orang Bani Quraizhah merobek-robek kertas perjanjian seraya berkata mencela Rasulullah saw.

“Siapa Rasulullah? Tidak ada perjanjian apa-apa antara kami dengan Muhammad,” ujar mereka dengan nada mengejek.

Setelah itu, dengan membawa kabar yang meyakinkan, keempat utusan tersebut kembali kepada Rasulullah saw yang sedang bersama kaum muslimin yang menanti-nanti kabar tersebut.

“Adhl dan Qarah,” kata keempat utusan tersebut kepada Rasulullah saw. Maksud mereka, orang-orang Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan sebagaimana yang dilakukan oleh Adhl dan Qarah pada saat tragedi Raji’.

Begitu mendengar itu, Rasulullah saw langsung bersabda, “Allahu Akbar! Kemenangan untuk kita.” Beliau mengatakan demikian agar tak menimbulkan kecemasan di kalangan Muslim. Jadi beliau tidak pernah mematahkan semangat kaum Muslim.

Informasi itu berusaha dirahasiakan namun sayang, ternyata berita itu tersebar juga. Orang-orang munafik berbalik ke belakang.

Sebagian di antara mereka berujar, “Rumah kami akan menjadi sasaran musuh. Maka izinkan kami untuk kembali pulang karena rumah kami berada di luar Madinah.”

Sebagian yang lain berkata, “Kemarin Muhammad berjanji kepada kami bahwa kami akan mengambil harta simpanan Kisra dan Kaisar. Sementara pada hari ini tak seorang pun di antara kami yang merasa aman terhadap dirinya, sekalipun hanya untuk buang hajat.”

Rasulullah saw lalu mengirimkan utusan kepada ‘Uyainah bin Hushain dan al-Harits bin ‘Auf, dua pemimpin Ghathafan. Kepada dua pemimpin itu, Rasulullah saw berjanji akan menyerahkan sepertiga hasil panen kurma di Madinah dengan syarat mereka keluar dari barisan pasukan musyrik dan membiarkan beliau menyerang pasukan musyrik.

Terjadi negosiasi yang alot.

Lalu Rasulullah saw meminta pendapat pemimpin Anshar: Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubaidah.

“Ya Rasulullah, apakah keputusan ini wahyu dari Allah?”
“Bukan,” jawab beliau. “Ini adalah siasat perangku, untuk mengurangi kekuatan pasukan mereka.”

“Demi Allah! Sebelum Islam datang, Bani Ghathafan bisa makan kurma Madinah hanya karena 2 hal, apakah mereka menjadi tamu kami, lalu kami menjamu mereka dengan kurma Madinah. Atau apakah mereka membeli dari kami, lalu kami jual. Apalagi sekarang Allah telah memuliakan kami dengan Islam, kami tidak akan memberikan kepada mereka kecuali pedang,” tegas keduanya. Subhanallah..

Rasulullah saw membenarkan pendapat mereka. Lihat, beliau seorang pemimpin tapi tetap bermusyawarah dan mendengarkan pendapat yang dipimpinnya.

Setelah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah saw, orang-orang Bani Quraizhah menyiapkan 700 pasukan, lalu segera mengutus seorang prajurit untuk membuka bagian belakang pertahanan kaum Muslim yang berisikan kaum wanita dan anak-anak. Kondisi mereka berada di ujung tanduk.

Namun, usaha Bani Quraizhah gagal karena di antara kaum wanita tersebut, terdapat sesosok perempuan yang gagah berani. Dia adalah Shafiyyah binti ‘Abdul Muthallib, bibi Rasulullah saw dan ibu dari Zubair bin ‘Awwam. Ketika melihat mata-mata Yahudi Bani Quraizhah itu, Shafiyyah memukulnya sampai pingsan, lalu dibunuhnya. Lukanya dibuat seolah-olah dibunuh oleh banyak orang.

Mengetahui mata-mata mereka tewas dibunuh, dengan bekas luka seperti itu, maka Bani Quraizhah mengurungkan niatnya untuk menyerang bagian belakang tersebut, karena takut kalau tempat tersebut dijaga oleh pasukan Muslim.

Subhanallah.. seorang perempuan mukmin yang berani dan pintar telah berhasil menggagalkan penyerbuan Bani Quraizhah. Subhanallah..

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/z_jvEmnE/sirah_nabawi_18_perang_khandaq.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s