Sirah Nabawi -part 16- Perang Bani Nadhir

Episode 16.4
Chapter: Perang Bani Nadhir

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Tragedi Bi’r Ma’unah membuat orang-orang Yahudi bertambah lancang. Sebelum itu, mereka dikenal sangat benci pada Islam dan kaum Muslim. Setelah Perang Uhud, mereka menampakkan kedengkian dan permusuhan. Mereka mulai menjalin kontak dengan orang-orang munafik dan musyrik Makkah secara rahasia.

Setelah tragedi Bi’r Ma’unah, kebencian mereka semakin menebal. Mereka pun mulai melakukan cara-cara tidak terpuji berupa konspirasi untuk membunuh nabi Muhammad saw.

Karena peristiwa terbunuhnya 2 orang oleh ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamiri, Rasulullah saw memilih Bani Nadhir untuk menjadi penengah antara kaum Muslim dengan Bani ‘Amir. Beliau bersama beberapa sahabat mendatangi orang-orang Yahudi bani Nadhir.

“Kedatangan kami ke sini, meminta kepada engkau agar menjadi penengah antara kami dengan Bani Amir. Karena ‘Amr bin Umayyah salah membunuh orang maka kami akan membayar diyat (tebusan, ganti rugi) sebanyak 200 ekor unta. Maukah Anda sebagai penengah antara kami dengan Bani Amir? Karena saya tahu Anda ini teman daripada Bani Amir,” kata beliau.

“Wah, kalau itu gampang. Tunggu sebentar, duduklah di sini, kami akan musyawarah,” jawab Yahudi Bani Nadhir.
Rasulullah saw lalu duduk di pinggir tembok salah satu rumah mereka. Di sampingnya, ada Abu Bakar, Umar, Ali, dan sahabat lainnya.

Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata orang-orang Yahudi kasak-kusuk. Mereka berunding merencanakan niat jahat: membunuh Rasulullah saw di tempat itu.

“Ini adalah kesempatan yang sangat baik. Muhammad tidak dijaga oleh para tentara. Muhammad hanya didampingi oleh 4 orang. Siapa di antara kalian yang bisa menjatuhkan batu dari atas, sehingga dia wafat. Bagaimana?”
Itu yang dimusyawarhakn oleh mereka, bukan masalah diyat. Na’udzubillah Yahudi ini..

“Aku,” jawab ‘Amr bin Jahhasy, lalu dia naik ke atas.

Saat itulah, Jibril memberi tahu Rasulullah saw, “Muhammad, mereka akan membunuhmu. Pergi ke Madinah, siapkan pasukan.”
Rasulullah saw terkejut. Tanpa memberi tahu para sahabat, beliau segera bangkit dari duduknya dan segera kembali ke Madinah. Para sahabat mengira beliau hanya pergi sebentar, mungkin ke toilet, gitu, maka mereka menunggu.

Sedangkan Rasulullah saw sudah sampai kembali ke Madinah, “Siapkan pasukan,” perintah beliau, “Serang Bani Nadhir.”
Kenapa?
“Saya mau mengajak musyawarah, malah mereka mau membunuh saya.”
Tak berapa lama pasukan sudah siap.

Sedangkan para sahabat yang sedang menunggu di Bani Nadhir, masih menunggu beliau muncul kembali. Namun setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Madinah.
“Ternyata Anda pulang,” kata mereka keheranan begitu bertemu dengan Rasulullah saw di Madinah.
Rasulullah saw lalu memberi tahu penyebabnya. Para sahabat geram. Mereka segera bersiap untuk menyerang Bani Nadhir. Pasukan Muslim berangkat menuju perkampungan Bani Nadhir. ‘Ali bin Abi Thalib berjalan dengan membawa bendera perang.

Setelah tiba, Rasulullah saw memerintahkan pasukannya mengepung Bani Nadhir. Sementara penduduk Bani Nadhir masuk ke dalam benteng untuk bertahan. “Biar kaum Muslim kecapekan mengepung di luar, kita masuk ke dalam. Untuk 5-6 tahun, subur kita ini. Kurma ada, air ada. Tenang saja.”

Rasulullah saw akhirnya memerintahkan pasukannya untuk menebang pohon-pohon kurma di sekeliling Bani Nadhir. Mereka akhirnya menyerah dengan meletakkan senjata mereka. Setelah itu, mereka mengirim utusan menemui Nabi saw.
“Kalau kami menyerah, apa yang kami dapatkan?” tanya mereka.
“Apabila kalian menyerah, keluar kalian dari tempat ini. Saya usir kalian, seperti mengusir Bani Qainuqa’,” jawab beliau.
“Wahai Muhammad, kami akan keluar dari Madinah dengan syarat, kami boleh membawa apa saja kekayaan kami yang ada di Bani Nadhir.”
“Boleh. Silakan bawa! Bila perlu rumahmu kamu bungkus kamu bawa. Tapi tidak boleh membawa senjata perang,” jawab beliau.

Penduduk Bani Nadhir mulai berkemas. Pintu, jendela, dan tiang penyangga atap rumah mereka bawa. Banyak di antara mereka, termasuk pemimpinnya yaitu Huyyai bin Akhtab, mengungsi ke Khaibar. Sisanya ke Syam.

Nantinya Huyyai akan menjadi pemimpin Yahudi di Khaibar, di situ sebelumnya sudah ada Yahudi Bani Qainuqa’ yang telah terlebih dahulu diusir. Huyyai bisa menjadi pemimpin karena dia punya modal, karena Yahudi Bani Nadhir diusir namun diperbolehkan membawa harta kekayannya, sedangkan Yahudi Bani Qainuqa’ diusir dengan ketentuan tidak boleh membawa harta kekayaan mereka.

Untuk senjata, terkumpul 50 baju besi, 50 topi baja, dan 340 pedang, semuanya disimpan sebagai persediaan perang fi Sabilillah. Harta benda dan tempat tinggal Bani Nadhir menjadi milik Rasulullah saw. Setelah itu, beliau memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki, bukan hanya seperlima. Mereka yang diberikan harta rampasan perang adalah orang-orang Muhajirin serta Abu Dujanah dan Sahl bin Hanif dari Anshar, karena keduanya sangat miskin.

Perang Bani Nadhir terjadi pada bulan Rabiul Awal 4 Hijriah, bertepatan dnegan Agustus 625 M. Allah menurunkan surah al-Hasyr untuk menjelaskan perang ini. Ibnu ‘Abbas berkata tentang surah al-Hasyr, “Ini adalah surah an-Nadhir.”

Kemenangan ini membuat pengaruh Rasulullah saw bertambah kuat di Madinah.

Hikmah Perang Bani Nadhir

1. Pemberitahuan Allah kepada Rasulullah saw tentang rencana pembunuhan mereka menunjukkan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang sering melanggar janji.

2. Peristiwa ini membuat Allah menurunkan firman-Nya:
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halaman mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah, maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan-tangan orang Mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan sekiranya tidak karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, pasti Allah mengazab mereka di dunia. Dan di akhirat mereka akan mendapat azab neraka.” (QS. al-Hasyr 59: 2-3)

Jadi, Allah-lah yang mengeluarkan Yahudi Bani Nadhir dari Madinah ke Syam. Perang ini menjadi pelajaran bagi seluruh umat Islam sepanjang zaman. Allah mengingatkan mereka bahwa jalan untuk meraih pertolongan Allah sangat dekat, yaitu dengan kembali ke Allah, berpegang teguh pada-Nya, dan patuh pada syariat-Nya serta kekuasaan-Nya.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/TaKlM3kq/sirah_nabawi_16_awal_peristiwa.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s