Sirah Nabawi -part 16- Tewasnya Gembong Konspirasi

Episode 16.2
Chapter: Tewasnya Gembong Konspirasi

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Pada tanggal 5 Muharram tahun itu pula, ada berita yang masuk ke Madinah bahwa Khalid bin Sufyan al-Hudzaly, pemimpin kabilah Hudzaly, menghimpun kabilah-kabilah untuk menyerang kaum Muslimin.

Khalid bin Sufyan al-Hudzaly ini orang yang sangat berbahaya, karena punya kemampuan untuk menghimpun pasukan sampai ribuan. Dia menjadi pucuk pimpinan kabilah-kabilah yang bersekutu untuk menyerang Madinah.

Maka Rasulullah saw mengutus Abdullah bin Unais, yaitu seorang pemuda di Madinah yang pemberani dan cerdas, untuk membinasakannya.
“Saya belum tahu orangnya. Bagaimana mengenalinya, ya Rasul?” tanya Abdullah bin Unais.
“Cirinya, kalau kau bertemu dengan orang itu, perasaanmu akan takut. Maka itulah Khalid bin Sufyan al-Hudzaly,” jawab beliau.
“Takut padanya?” Abdullah bin Unais kaget. Selama hidupnya dia tidak pernah takut kepada siapapun, kecuali Allah swt.
“Ya, begitulah Khalid bin Sufyan al-Hudzaly,” kata beliau.

Maka berangkatlah Abdullah bin Unais. Senjata yang dia bawa hanya sebuah pisau kecil. Subhanallah..

Sampailah dia di kabilah Hudzaly. Dia mengamati orang-orang di sana, tidak ada perasaan takut dalam dirinya. Waktu Ashar tiba, dia melihat seorang laki-laki, tiba-tiba timbul rasa takut, “Sepertinya inilah Khalid bin Sufyan al-Hudzaly.”

Maka dia mengikutinya. Namun karena sudah masuk waktu sholat Ashar, maka dia berniat sholat Ashar sambil berjalan mengikuti Khalid bin Sufyan, “Saya niat sholat sambil berjalan.”

Sholat sambil berjalan yang dikerjakan oleh Abdullah bin Unais ini diperbolehkan karena dalam waktu Ashar yang sangat sempit, dia harus menjalankan perintah Rasulullah saw untuk membunuh musuh Allah.

Sampailah di tempat tujuan, maka dengan berani, Abdullah bin Unais mendekati Khalid bin Sufyan.
“Hai pemimpin kami yang hebat, Khalid bin Sufyan,” kata Abdullah.
“Siapa kamu?” tanya Khalid.
“Saya adalah pengagum Anda,” kata Abdullah. “Anda orang hebat yang bisa menyatukan banyak pasukan untuk menyerang Muhammad. Dan saya akan bergabung dengan Anda, saya memiliki ratusan pasukan. Bagaimana?”
Khalid senang sekali mendengarnya. Tapi Khalid menguji Abdullah. “Kamu dari kabilah mana?”
Abdullah menjawab dengan cerdik, “Khuza’ah” tepat persis dengan logat khas orang kabilah Khuza’ah.
Seperti misalnya begini, kalau orang Betawi, maka dia tidak akan mengatakan, “Abdi teh ti Betawi” tapi dia akan mengatakan, “Ane Betawi”.

Maka Khalid percaya pada Abdullah, lalu mengajaknya bermusyawarah, “Bagaimana siasat kamu dalam peperangan?” Begini-begini-begini, Abdullah pun menerangkan siasatnya, menerangkan kondisi Madinah dan seterusnya sampai Khalid sangat tertarik padanya.
Mereka terus bicara, sampai akhirnya orang-orang di sekitar Khalid pamitan pulang.
“Saya punya rahasia, ini tidak boleh diketahui oleh siapapun. Rahasia ini saya peroleh karena saya baru datang dari Madinah,” kata Abdullah.
“Apa itu?”
“Kalau bisa, kita agak menjauh ke sana, rahasia ini hanya boleh diketahui oleh Anda saja sebagai seorang pemimpin,” kata Abdullah.
Ketika mereka tinggal berdua tidak ada orang lain, maka Abdullah berkata, “Begini, kita bunuh Muhammad dengan cara menikamnya.”
“Bagaimana?” tanya Khalid.
“Begini,” dengan cepat Abdullah mengeluarkan pisau yang dibawanya, lalu ditikamnya Khalid. Lalu dia bergegas kembali ke Madinah.

Rasulullah saw mendapat kabar ini dari malaikat Jibril. Beliau tersenyum, dan melebarkan tangannya menyambut kedatangan Abdullah bin Unais. “Engkau sangat beruntung sekali, Allah dan malaikat memuji keberanianmu.”

“Yang pantas untuk dipuji itu bukan aku, tapi yang pantas dipuji oleh Allah dan malaikat adalah engkau ya Rasulullah, karena aku bisa begini karena mengikuti ajaranmu ya Rasulullah,” jawab Abdullah.

Abdullah datang sambil menyerahkan sebatang tongkat kepada beliau seraya berkata, “Ini merupakan tanda antara diriku dan engkau pada hari kiamat.” Wasiatnya, jika meninggal dunia dia berharap agar tongkat itu juga disertakan dalam kain kafannya.

Setelah Khalid bin Sufyan al-Hudzaly tewas, maka sekitar 6000 pasukan yang dia kumpulkan untuk menyerang Madinah bubar, tidak jadi perang. Penyerbuan ke Madinah telah digagalkan oleh seorang pahlawan, Abdullah bin Unais.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/TaKlM3kq/sirah_nabawi_16_awal_peristiwa.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s