Sirah Nabawi -part 13- Pertempuran Berkecamuk

Episode 13.5
Chapter: Pertempuran Berkecamuk

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Untuk menghadapi pasukan musyrik yang jumlahnya jauh lebih banyak, maka Rasulullah SAW memerintahkan pasukan Muslim agar berbaris seperti shaf shalat. Satu barisan membujur panjang disusul dengan barisan lain di belakangnya.

Rasulullah SAW memerintahkan kepada mereka untuk tidak memulai peperangan sebelum datang perintah darinya. “Jika mereka mendekati kalian, lepaskan anak panah kalian dan jangan sampai kalian didahului.” (Shahih Bukhari).
Janganlah terburu-buru menghunus pedang kecuali setelah mereka dekat dengan kalian.” (Sunan Abu Dawud).

Saat beliau sedang meluruskan barisan itulah ada kejadian unik.

Ada seorang Sahabat bernama Sawad bin Ghaziyyah yang perutnya besar, sehingga walaupun kakinya sudah lurus dengan barisan, tapi perutnya tetap tampak lebih maju –tidak lurus dalam barisan, karena memang perutnya besar, sampai bajunya saja tidak bisa dikancingkan.

Kalau meluruskan, bagi yang perutnya besar, kira-kira meluruskan perut atau meluruskan kaki ya? Kalau meluruskan perut, maka kakinya tidak lurus, dan sebaliknya.

Maka Sawad pun kena pukul Rasulullah SAW, “Mundur! Luruskan! Luruskan wahai Sawad!” karena beliau melihat perut Sawad yang tampak lebih maju dalam barisan, dikira beliau kaki Sawad tidak lurus.

Kaki saya sudah lurus, gumam Sawad, maka dia tersenyum.

Ini dalam keadaan mau perang, tiba-tiba Sawad bertanya kepada Rasulullah,
“Demi Allah, saya ingin bertanya kepada Anda, ya Rasul.”

Ini sudah mau perang nih, injury-time, tapi Rasullah SAW menjawab, “Silakan, mau tanya apa?”
“Ya Rasulullah, apa itu qishash?”
Coba, mau perang masih nanya tentang qishash.

“Qishash itu adalah bunuh, bunuh lagi, pukul, pukul lagi, darah dengan darah. Itulah qishash.”
“Saya ingin menagih qishash kepada Anda ya Rasul.”
Waduh.. mau ngapain nih Sawad, kata para Sahabat. “Diam,” kata Sawad.

“Memangnya kenapa?” tanya Rasulullah SAW.
“Ingat tadi Anda pukul saya waktu baris? Kaki saya sudah lurus, ya Rasul, cuma perut saya saja yang memang besar sehingga lebih maju. Saya akan menagih qishash kepada Anda.”

“Silakan. Ini pemukul yang tadi saya pakai. Silakan. Ini perut saya.”
“Maaf ya Rasul, tadi pemukul ini kena kulit saya, tidak kena baju. Adil, buka bajunya ya Rasul.”

“Baik,” dibuka bajunya, “Silakan.”
Para Sahabat berbisik-bisik, wah, kacau ini, sungguh memalukan Sawad ini.
“Siap ya Rasul? Mohon maaf..”

“Ya, silakan.”
Sawad mengangkat pemukulnya, lalu dibuangnya, dan segera dia memeluk dan mencium perut Rasulullah SAW.
“Demi Allah, saya tidak akan ridho kalau saya mati syahid saat ini sebelum bisa mencium perut Rasulullah SAW. Insya Allah, karena saya berhasil mencium perut ini, maka saya harus berhasil syahid hari ini.”

Benar, Sawad termasuk orang syahid dalam Perang Badar.
Subhanallah, luar biasa, kata para Sahabat.

Kalau ada kesempatan ke Badar, ada nama-nama syuhada Badar, di situ ada nama Sawad bin Ghaziyyah, satu-satunya syuhada Badar yang mencium perut Rasulullah SAW. Subhanallah..

Hujan deras yang mengguyur semalam di area pasukan musyrik, lalu paginya langsung panas menyengat, membuat pasukan kafir kehausan, namun semua sumur sudah dikuasai oleh pasukan muslim.

Hamzah, sang singa Allah, berdiri dengan gagah menjaga sumur yang sudah dikuasai. Subhanallah..

Ada seorang kafir bernama Aswad, dia merasa sangat kehausan sehingga dia bersumpah untuk minum dari sumur itu. Maka Hamzah pun menghadangnya. Dalam waktu singkat, Hamzah bisa mematahkan kaki Aswad.

Saat mau membunuhnya, Umar berteriak pada Hamzah, “Jangan kau bunuh dulu. Dia tadi bersumpah ingin minum air dari sumur itu. Biarkan dia memenuhi sumpahnya dulu. Setelah minum air, baru kau bunuh.”
“Nih, minum kamu,” Hamzah memberikan Aswad kesempatan untuk minum air dari sumur itu, lalu, “Kamu mau masuk Islam?”
Tidak, jawab Aswad.
Maka Hamzah pun membunuhnya.

Jadi pertama kali yang mati di kafir adalah Aswad karena mengambil air dari sumur.

Maka dimulailah al mubarozah..
Sebelumnya, dijelaskan bahwa pertempuran orang Arab itu ada 2 ciri khasnya.

1 Sebelum dimulai, dikeluarkan dulu jago-jagonya, bintang-bintangnya, untuk adu tanding, satu-lawan-satu, berantem dulu jago-jagonya.

2 Setelah itu baru perang dimulai dengan ditandai masing-masing pihak mengangkat benderanya masing-masing. Pasukan penyerang akan bergerak menyerang bendera musuh, sedangkan pasukan bertahan akan melindungi benderanya.
Maka apabila bendera itu jatuh tidak berdiri lagi, berarti dia pihak yang sudah kalah.

Begitulah peperangan saat itu.
Berarti yang paling berbahaya dalam peperangan itu adalah di sekitar bendera. Siapa yang membawa bendera, maka dia harus siap mati.
Bendera Islam, biasanya berwarna putih bertuliskan Laa ilaaha illallah – Muhammad Rasulullah. Sedangkan orang kafir benderanya ada yang merah hitam dan lainnya.

Kita kembali ke medan pertempuran Perang Badar.

Al Mubarozah dimulai dengan majunya 3 tokoh Quraisy, yang berasal dari satu keluarga, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid bin Utbah (anaknya Utbah bin Rabi’ah) dan Syaibah bin Rabi’ah (saudaranya Utbah bin Rabi’ah).

“Apakah di antara kalian ada jago-jagonya untuk menghadapi kami?”
Rasulullah SAW belum menentukan, sudah muncul 3 pemuda Anshar, yaitu Auf bin Al-Harits, Mu’awwidz bin Al-Harits, dan Abdullah bin Rawahah.

“Siapa kalian?”
“Kami orang-orang Anshar, Madinah.”
“Saya tidak ada urusan dengan orang-orang Madinah. Keluar kamu. Saya punya urusan dengan orang-orang Mekkah.”
“Muhammad, kirimkan kepada kami orang-orang Mekkah. Jangan penakut.”

Rasululah SAW bersabda, “Hamzah, berdiri! Ali, berdiri! Ubaidah bin Al-Harits, berdiri!”
Itu semua keluarganya. Hamzah dan Ubaidah adalah paman beliau, dan Ali adalah anak paman beliau. Yang dimajukan ke medan perang itu adalah keluarganya.

Lihatlah begitulah seorang pemimpin.
Coba kalau sekarang, seorang pemimpin, dalam keadaan bahaya, ‘Itu jangan anak saya itu, itu paman saya, jangan.’
Tapi Rasulullah SAW, malah mengajukan keluarganya. Subhanallah..

Ubaidah yang paling tua di antara mereka, berhadapan dengan Utbah, Hamzah dengan Syaibah, dan Ali berhadapan dengan Al-Walid.

Kurang dari 5 menit, dengan beberapa gerakan saja, Hamzah dan Ali bisa membunuh lawannya. Lalu Hamzah menghampiri lawan Ubaidah, dan dalam waktu singkat Hamzah dapat membunuh Utbah.

Saat itu orang kafir kaget. Dalam waktu cuma 5 menit, 3 pemuka Quraisy mati. Itu menjadi pukulan berat bagi mereka. Mereka segera bergerak maju, menyerang pasukan Muslim dengan membabi buta.

Sementara itu, pasukan Muslim tetap berdiri kukuh di tempatnya masing-masing dengan sikap defensif. Namun cara ini cukup ampuh untuk menjatuhkan korban di kalangan orang-orang musyrik. Dari bibir mereka keluar kalimat mengagungkan Allah. “Ahad.. Ahad..” Pertempuran mencapai puncaknya.

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/F5luEcn-/sirah_nabawi_13_perang_badar.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s