Sirah Nabawi -part 13- Tipu Daya Perang

Episode 13.4
Chapter: Tipu Daya Perang

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Kaum Muslim lalu melanjutkan perjalanan menuju Badar. Mereka tiba di suatu lapangan Badar yang berada di pinggir lembah pada malam hari.

Seorang sahabat yang ahli siasat perang bernama Habbab bin Mundzir bertanya, “Ya Rasulullah, apakah tempat berhenti yang kau tunjuk saat ini, apakah ini wahyu Allah? Atau ini siasat perangmu?”

Beliau menjawab, “Ini adalah tipu dayaku dalam peperangan.”
Hubab berkata, “Ya Rasulullah, saya punya pendapat. Bagaimana kalau pasukan ini lebih maju lagi?”

Kenapa?
“Di situ banyak sumur-sumur. Mari kita berhenti di sumur itu. Karena nanti orang kafir pun pasti akan mencari sumur. Maka kita cari sumur yang paling besar, sumur yang kecil-kecil kita tutup semuanya.”
“Cara ini membuat kita bisa minum dan mereka tidak bisa minum.”

Beliau bersabda, “Ini ide yang sangat baik.”

Lihat, Rasulullah SAW tidak mentang-mentang seorang pemimpin diberi pendapat oleh prajuiritnya, ‘Aku kan Rasul. Aku lebih tahu. Terserah aku dong.’ Tidak demikian. Rasulullah SAW adalah pemimpin yang menerima ide dari orang lain.

Pasukan Muslim pun bergerak pindah menuju tempat yang dimaksud Habbab.

Sumur-sumur di daerah situ memang ada banyak. Maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk menutup semua sumur, kecuali 2 yang besar. Satu untuk yang berperang –bagian kesehatan–, satu lagi untuk emergency.

Subhanallah, saat itu Rasulullah SAW mendengar pasukan kafir yang datang dengan suaranya yang gemuruh. Maka beliau mengirim mata-mata untuk mencari data tentang musuh.
“Coba lihat, berapa jumlah mereka?”
“Caranya?”
“Lihat saja, berapa unta yang mereka sembelih untuk dimakan dalam sehari.”

Akhirnya diketahui bahwa dalam sehari pasukan Quraisiy menyembelih sekitar 10 atau 9 unta.
Maka Rasulullah SAW mengatakan, 1 unta cukup untuk 95-100 orang, berarti diperkirakan 1000 orang jumlah pasukan Quraisy.

Malam terus merambat.

Subhanallah, malam itu, malam Jum’at, tanggal 17 Ramadhan 2 H, di mana hari esoknya mau perang, Allah SWT menurunkan hujan yang lembut, gerimis rintik-rintik. Sehingga deengan hujan yang gerimis semua pasukan Muslim tertidur.

Waktu itu Abu Thalhah yang bertugas sebagai penjaga mengatakan, “Demi Allah, ketika saya menjaga pasukan umat Islam, saya tertidur, dan tak terasa pedangku terjatuh dari genggaman tanganku, lalu aku memungutnya, terjatuh lagi dan aku memungutnya, sampai 14 kali.”

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan engka mengantuk sebagai suatu penentraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit ntuk mensucikan kami dengan hujan itu dan menghilangnkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kai (mu).” (QS. al-Anfal 8: 11)

Itulah karunia Allah SWT. Seolah-olah Allah hendak mengatakan, besok anda harus perang, maka malam ini harus tenang.
Bayangkan, kalau besok mau perang, kira-kira malam ini kita bisa tidur tenang tidak? Pasti resah, gimana nih, besok perang, mati atau engga.
Ini pasukan muslimin semuanya tidur tenang. Subhanallah..

Padang pasir kalau diberi air yang gerimis, maka pasirnya menjadi keras, jadi enak untuk diinjak.

Tapi hujan gerimis di kaum muslimin, sebaliknya hujan yang sangat deras di tempat kaum musyrik. Sehingga karena saking besar hujannya, kalau mereka menginjak padang pasir, semua lumpur pasir ikut di kakinya, jadi mereka sibuk membersihkan kakinya. Itu keadaannya.

Subhanallah.. lihat indahnya satu pertempuran begini.

Di situ Rasulullah SAW melihat, Subhanallah.. begitu banyak pasukan kafir.

Rasulullah SAW dibuatkan sebuah tenda di tempat yang tinggi, tepatnya di sebelah timur laut dari medan perang. Itu pun atas ide dari sahabat Anshar, bukan keinginan Rasulullah SAW.

Sa’ad bin Mu’adz yang mengusulkan kepada Rasulullah SAW, dia berkata,
“Wahai Nabi Allah, bagaimana jika kami membuat sebuah tenda bagi engkau dan kami siapkan kendaraan di sisi engkau, kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh? Jika Allah memberikan kemenangan kepada kita atas musuh, maka memang itulah yang kami sukai. Tapi jika hasilnya lain, maka engkau bisa langsung duduk di atas kendaraan, lalu bisa menyusul orang-orang di belakang kami. Di sana masih ada beberapa orang yang tidak ikut bergabung dengan kami.

Wahai nabi Allah, mereka jauh lebih mencintai engkau daripada cinta kami kepada engkau. Jika mereka menganggap bahwa engkau harus menghadapi perang, tentu mereka tidak akan mangkir dari sisi engkau. Allah pasti akan membela engkau bersama mereka, memberikan nasihat kepada engkau dan berjihad bersama engkau.”

Karena memang niat awal berangkatnya pasukan ini bukan untuk berperang, maka tidak semua Sahabat ikut, banyak Sahabat yang masih tinggal di Madinah.

Pada malam itu, saat Rasulullah SAW melihat begitu banyak jumlah pasukan kafir, sedangkan jumlah pasukan Muslimin sedikit, maka beliau banyak mendirikan sholat. Sang Pemimpin Agung itu tak kuasa menahan tangis, membayangkan perang besar yang akan dilakukan esok hari.

Itu adalah malam yang menentukan, dan hanya satu malam. Karena keesokan harinya, akan terjadi pertempuran pertama dalam sejarah Islam, perang perdana antara kekufuran dan iman, dan pertempuran pertama saat Allah SWT menegakkan panji agama dan kalimat Laa ilaaha illa Allah. Dan Rasulullah SAW melewatkan malam itu dengan melakukan sholat Tahajjud hingga pagi menjelang.

Rasulullah manusia.
Rasulullah SAW mengangkat tangan, berdoa dengan khusyuk.

“Ya Allah, orang Quraisy telah tiba, dengan kecongkakan dan kesombongannya, memusuhi-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kumohon pertolongan yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah mereka esok hari!”

“Ya Allah, apabila pasukan ini hancur, demi Allah, tidak ada lagi di muka bumi ini yang akan menyembah-Mu.”

Subhanallah.. Doanya bukan doa putus asa, Rasulullah SAW tidak pernah berdoa seperti ini kecuali di sini, hebat doanya..

“Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika Engkau menghendaki untuk tidak disembah selamanya setelah hari ini.”
Abu Bakar menangis dengan doa seperti itu.

“Ya Allah, Tuhan kami, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepdaku. Ya Allah, seandainya Engkau menghancurkan para pemeluk Islam ini, niscaya Engkau tidak akan disembah di muka bumi!”

Rasulullah SAW terus berdoa. Tanpa disadarinya, serban beliau jatuh dari pundaknya. Maka Abu Bakar sambil menangis, membawa sorbannya mengatakan, “Ya Rasulullah, cukup ya Rasul, Allah tidak akan meninggalkan Anda.”

Sekarang berbalik, “Innallaaha ma’ana,” kata Abu Bakar.

Dulu pernah Rasulullah mengatakan “innallaaha ma’ana” kepada Abu Bakar ketika hijrah. Sekarang Abu Bakar yang kembali memantulkan lafazh-lafazh Rasulullah SAW.

Ya, Rasulullah manusia, maka beliau pun perlu sahabat. Perlu teman. Kenapa?
Suatu saat dalam keadaan guncang, kesulitan, siapa yang akan menasehatinya? Sahabatnya.

Tiba-tiba Rasulullah SAW terserang kantuk berat, beliau tertidur.

Allah SWT lalu menurunkan ayat berikut,
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal 8: 9).

Rasulullah pun terbangun dari tidurnya yang sejenak itu.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
“Ada apa, Ya Rasul?” tanya Abu Bakar.

“Demi Allah, saya melihat Jibril turun dengan para malaikat. Saat ini sudah berkumpul di tempat Badar.”

Subhanallah.. jadi malaikat turun, istilahnya murdifin.

Murdifin itu dapat diartikan begini, kalau kita keluar masjid, karena pintunya kecil, semuanya mengarah ke satu titik itu, sehingga berdesak-desakan, keluarnya berjejal-jejal.

Jadi malaikat berjejal-jejal turun untuk membantu Rasulullah SAW.

Kenapa malaikat ikut perang? Apa rahasianya?
Karena syaitan ikut perang. Secara kasat mata, pasukan kafir manusia aslinya memang 1000, tapi syaitannya entah berapa.

“Aku telah melihat malaikat Jibril turun ke tempat Badar dengan ribuan malaikat.”
Subhanallah..

*tobecontinued*

Credit and Thanks to Abi Makki, Allah yubarik fiih..

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/F5luEcn-/sirah_nabawi_13_perang_badar.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s