Israel, si Zionisme penjajah –part 6

Cetak Biru Konspirasi

Majalah Al-Mujtama’ Kuwait pada tanggal 25 Desember 1978 edisi 425-426 memuat sebuah dokumen rahasia tentang peranan dan konspirasi kaum Yahudi di dalam menumbangkan kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.

Dokumen ini sebenarnya berasal dari sebuah surat yang ditulis duta besar Inggris di Konstantinopel, Sir Gebrar Lother, kepada Menteri Luar Ngeri Inggris Sir C Harving pada tanggal 29 Mei 1910.

Dalam dokumen tersebut dipaparkan secara rinci bagaimana kaum Masonik melakukan penyusupan ke berbagai sekotr vital pemerintahan Turki untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Abdul Hamid II dan mengangkat Mustafa Kemal Attaturk, untuk menghapuskan kekhalifahan Islam di Turki.

Bahkan kaum Mason Turki ini berhasil masuk dalam lingkaran pertama Sultan Abdul Hamid II sehingga banyak kebijakan-kebijakannya yang disabot atau disalahgunakan.

Selain menghancurkan penghalang utama, kekhalifahan Turki Ustmani, Konspirasi Yahudi Internasional juga menyusun cetak biru rencana aksi –yang berasal dari Abert Pike- untuk meletuskan Perang Dunia I dan II.

Selain menghancurkan dan menguasai negara-negara non-Yahudi, Konspirasi juga secara intens mempersiapkan ‘perebutan’ tanah Palestina bagi negara Yahudi. Selain menerbitkan beragam artikel dan buku yang mempropagandakan bahwa Tanah Palestina merupakan hak sejarah bangsa Yahudi -sesuatu yang tentunya tidak ada dasar sejarahnya, Konspirasi secara serius juga menggarap gelombang imigrasi orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk memenuhi tanah Palestina.

Perlawanan terhadap aksi ini dari orang-orang Arab bukannya tidak ada, seperti yang telah diperlihatkan Mufti Palestina Sayyid Husseini, namun Pan Arab tidaklah sekuat dan sefanatik Pan-Yahudi yang didukung oleh kekuatan kolonialis Barat.

Kegigihan Konspirasi Yahudi Internasional dalam mendirikan sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi akhirnya terlaksana juga pada tanggal 2 November 1917.

Surat dari Menteri Luar Negeri Inggris

Pada saat itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Arthur James Balfour mengirim sebuah surat yang ditujukan kepada Pemimpin Komunitas Yahudi Inggris, Walther Rothschild (Lord Rothschild), untuk diteruskan kepada Federasi Zionis, yang berisi pemberitahuan tentang persetujuan pemerintahan Inggris yang telah menggelar rapat Kabinet tanggal 31 Oktober 1917, atas permintaan bangsa Yahudi untuk bisa mendapatkan tanah airnya di Palestina.

Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina masih berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Ustmani. Batas-batas yang akan menjadi wilayah Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot tertanggal 16 Mei 1916 antara Inggris dan Perancis.

Kata-kata Deklarasi ini kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Sevres dengan Turki Ustmani dan mandat untuk Palestina.

Deklarasi asli (surat ketikan yang ditandatangani dengan tinta oleh Balfour) ialah sebagai berikut: (terjemahan dalam bahasa Indonesia)

Departemen Luar Negeri

2 November 1917

Lord Rothschild yang terhormat,

Saya sangat senang menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.

“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina  sebuah tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dan komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya.”

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.

Yours sincerely,

Arthur James Balfour

Dr. Chaim Weizmann, juru bicara terkemuka organisasi Zionisme di Inggris dan pendukung utama gagasan ini merupakan seorang pakar kimia yang berhasil mensitesiskan cordite, bahan pembakar yang diperlukan untuk mendorong peluru-peluru.

Jerman memonopoli ramuan aseton kunci, kalsium asetat. Tanpa kalsium asetat, Inggris tidak bisa mencipatakan aseton dan tanpa aseton takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite, Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam Perang Besar.

Saat ditanya bayaran apa yang diinginkan, Weizmann menjawab dnegan lugas, “Hanya ada satu hal yang saya inginkan: Tanah air buat orang-orang saya.”

Ia menerima pembayaran untuk penemuan ini dari pemerintah Inggris: sebuah ‘negara’ Israel di Tanah Palestina.

-bersambung-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s