Israel, si Zionisme penjajah –part 1

Asal Muasal kata ‘Zionisme’

Sebuah bukit karang di sebelah barat daya kota suci Yerusalem selama berabad-abad lalu telah dikenal dengan sebutan Zion. Ada yang mengistilahkannya Gunung Zion, ada pula yang menyebut Bukit Zion. Semuanya sama, merujuk pada lokasi tersebut yang diyakini oleh kaum Yahudi sebagai lokasi di mana King Solomon (Nabi Sulaiman as) pernah membangun istananya (kuilnya) yang selain penuh berisi harta kekayaan, juga benda-benda mistis dan begitu penting bagi kepecayaan Yahudi.

Sebab itu, Majelis Tertinggi Ordo Kabbalah telah mengutus salah seorang anggotanya yang juga merupakan anggota dari Gereja Yohanit bernama Godfroi de Bouillon pada Perang Salib pertama untuk membangun gereja-gereja sebagai markas utama ordo Sion yang dibentuknya.

Markas Ksatria Templar yang berlainan dengan markas Ordo Sion juga diyakini masih berada di atas lokasi Haikal Sulaiman.

Namun sejalan dengan perkembangan waktu, istilah ‘Zion’ kemudian tidak hanya sebagai sebuah nama tempat, melainkan juga memiliki arti sebagai suatu ideologi dan gerakan orang-orang Yahudi untuk ‘kembali’ mendiami seluruh wilayah Palestina dengan beribukotakan Yerusalem.

Seorang tokoh Yahudi bernama Nathan Bernbaum-lah yang pertama kali ‘menyeret’ istilah yang pada awalnya netral ini menjadi begitu politis.

Pada tanggal 1 Mei 1776, hanya 2 bulan sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannnya (4 Juli 1776), Nathan mencetuskan Zionisme sebagai gerakan politik bangsa Yahudi untuk mendiami kembali tanah Palestina.

Gayung pun bersambut. Beberapa pentolan Yahudi mensosialisasikan istilah politis ini untuk mempersatukan perasaan dan persepsi bangsa Yahudi agar bersedia mencurahkan perhatiannya ke Palestina.

Awal Mula ide gila ‘Negara Israel’

Yahuda al-Kalaj tercatat sebagai tokoh Yahudi yang pertama kalinya melemparkan gagasan mendirikan ‘negara Israel’ di tanah Palestina.

Izvi Hirsc Kalischer menulis buku berbahasa Ibrani ‘Derishat Zion’ (1826) yang mendukung ide dari Yahuda al-Kalaj dan memaparkan kemungkinan-kemungkinannya.

Saat itu para tokoh Yahudi bukannya tidak paham bahwa tanah Palestina sebenarnya bukan merupakan hak milik mereka. Namun karena Talmud –kitab bikinan pendeta-pendeta tertinggi Yahudi– menyatakan tanah Palestina sebagai Tanah Yang Dijanjikan (The Promise Land) bagi bangsa Yahudi, maka tanpa reserve mereka pun mengikutinya.

Moses Hess, seorang Yahudi Jerman, melemparkan gagasan pertamanya bahwa untuk menguasai tanah Palestina, maka Yahudi harus menggandeng orang-orang Barat yang memiliki kepentingan yang sama untuk kembali ke Palestina setelah kekalahan yang memalukan atas kaum Saracen yang dipimpin Sholahuddin Al-Ayyubi beberapa abad lalu.

Maulani menulis bahwa ide ini mendapat dukungan dari beberapa tokoh kolonialis Barat yang memiliki sejumlah pertimbangan, antara lain: adanya konfrontasi antara Eropa dengan Turki Utsmaniyah di Dunia Arab, lalu Eropa juga menyadari diperlukannya satu benteng di Timur Tengah  yang bisa digunakan untuk kepentingan Eropa dan Yahudi bersedia melakukan itu, dan dendam Perang Salib pun belum terbayarkan dan menemukan momentumnya saat ini.

–bersambung–

Israel, si Zionisme penjajah part 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s