Pembebasan Yerusalem -part 1

Pembebasan Syam

Sekitar 4 abad sebelum Perang Salib pertama meletus, setelah terjadinya perang Yarmuk, pasukan Muslimin meneruskan ekspedisi pembebasan wilayah-wilayah ke seluruh negeri.

Pasukan induk kaum Muslimin yang berada di bawah komando Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid meneruskan gerakan mereka ke bagian utara negeri Syam.

(Pada abad ke-7 hingga kehadiran kolonialisme Inggris di Timur Tengah pada abad ke-19, Syam meliputi wilayah Palestina, Yordania dan Suriah.)

Sementara itu beberapa kontingen pasukan Islam di bawah komando Amru bin Ash dan Syurahbil tetap bertahan di wilayah selatan negeri Syam, yang meliputi Yordania dan Palestina.

Palagan Ajnadin

Mengetahui induk pasukan Islam bergerak meninggalkan Yarmuk, Artabunus, Gubernur Imperium Romawi Timur, Bizantium, yang kala itu merupakan salah satu negara super power dunia di samping Imperium Persia, menghimpun pasukannya kembali di Ajnadin untuk mengadakan serangan balasan guna mengusir pasukan Muslim yang masih ada di Suriah.

Pertarungan Palagan Ajnadin yang berlangsung sampai di penghujung tahun 636 M berlangsung dengan sangat ganas dan akhirnya dimenangkan oleh pasukan Muslim. Artabunus dan sisa pasukannya kabur ke Yerusalem.

Dari Ajnadin, pasukan Muslim bergerak ke seluruh penjuru Yordania dan Palestina. Kota-kota Sabtah, Gaza, Nablus, Bait-Jibril, dan lainnya berhasil dibebaskan oleh pasukan Muslim. Pembebasan Yerusalem tinggal menunggu waktu. Kota suci bagi tiga agama itu dipertahankan dengan sangat kuat.

Pembebasan Yerusalem

Kota Yerusalem dikelilingi tembok tinggi yang kokoh dan di bagian luarnya digali parit-parit yang dalam dan terjal. Jika musuh menyerang, maka parit-parit itu akan segera diisi dengan minyak panas atau sulfur yang membara. Siapapun yang menyerang Yerusalem, maka ia pasti akan mendapatkan kerugian yang amat banyak.

Saat pasukan Muslim mendekati Yerusalem di awal tahun 637 M, musim dingin masih menusuk tulang. Walau demikian, pengepungan terhadap kota ini terus dilakukan dnegan sangat ketat.

Amru bin Ash, panglima Muslim di wilayah selatan, tidak tega membiarkan pasukannya berlama-lama mengepung Yerusalem dalam kondisi kedinginan seperti itu. Ia ingin operasi pembebasan Yerusalem cepat dituntaskan. Amru bin Ash lalu menulis sepucuk surat minta bala-bantuan kepada panglima Abu Ubaidah di Suriah.

Saat itu, seluruh utara Suriah sudah dibebaskan pasukan Muslim hingga Abu Ubaidah dengan cepat bisa mengirimkan pasukan bantuan guna mendukung gerak pasukan Islam di wilayah Selatan.

Berita kedatangan bala bantuan kepada pasukan Muslim yang tengah mengepung kota membuat pasukan dan warga Kristen dan Yahudi yang berdiam di dalam kota menjadi ciut. Mengingat kedudukan Yerusalem sebagai kota suci, sebenarnya pasukan Muslim enggan menumpahkan darah di kota itu.

Sementara kaum Kristen yang mempertahankan kota itu juga sadar mereka tidak akan mampu menahan kekuatan pasukan Muslim.

Futuh Yerusalem

Menyadari memperpanjang perlawanan hanya akan menambah penderitaan yang sia-sia bagi penduduk Yerusalem, maka Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius mengajukan perjanjian damai. Permintaan itu disambut baik Panglima Amru bin Ash, sehingga Yerusalem direbut dengan damai tanpa pertumpahan darah setetes pun.

Walau demikian, Uskup Agung Sophronius menyatakan kota suci itu hanya akan diserahkan ke tangan seorang tokoh yang terbaik di antara kaum Muslimin, yakni Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu. Sophronius menghendaki agar Amirul Mukminin tersebut datang ke Yerusalem secara pribadi untuk menerima penyerahan kunci kota suci tersebut. Biasanya, hal ini akan segera ditolak oleh pasukan kaum Muslimin.

Bisa jadi, warga Kristen masih trauma dengan peristiwa direbutnya kota Yerusalem oleh tentara Persia dua dasawarsa sebelumnya di mana pasukan Persia itu melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci.

Walau orang-orang Kristen telah mendengar bahwa perilaku pasukan kaum Muslimin ini sungguh-sungguh berbeda, namun kecemasan akan kejadian dua dasawarsa dahulu masih membekas dengan kuat. Sebab itu mereka ingin jaminan yang lebih kuat dari Amirul Mukminin sendiri.

Panglima Abu Ubaidah memahami psikologis penduduk Yerusalem tersebut. Ia segera meneruskan permintaan tersebut kepada Khalifah Umar r.a yang berada di Madinah. Khalifah Umar segera menggelar rapat majelis Syuro untuk mendapatkan nasehatnya.

–bersambung–

Pembebasan Yerusalem part 2

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s