Sirah Nabawi -part 10- Baiat Aqabah Kedua

Episode 10.3
Chapter: Baiat Aqabah Kedua

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Sebelum Mushab bin Umair berangkat ke kota Madinah, Rasulullah SAW berpesan kepadanya untuk menyebarkan Islam di sana dengan akhlaq yang mulia.

Maka berangkatlah Mushab ke kota Madinah untuk mengajarkan syariat-syariat Islam kepada kabilah Aus dan Khazraj.

Kabilah Aus dan Khazraj ini terkenal orangnya lembut-lembut, seperti orang Indonesia, tinggi rasa malunya, rasa toleransinya. Sehingga dalam waktu yang tak terlalu lama, hampir seluruh kabilah Aus dan Khazraj menjadi muslim. Subhanallah..

Sebelum tiba musim haji tahun ke-13 dari nubuwah, Mushab bin Umair kembali ke Mekkah untuk menyampaikan kabar keberhasilannya dan keadaan penduduk Madinah yang sudah memiliki kekuatan siap memberi perlindungan.

Pada musim haji tahun ke-13 dari nubuwah, lebih dari 70 muslimin penduduk Madinah datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah, ketua kabilah Aus.

Kemudian diutus 2 orang di antara mereka yakni Al Barra bin Ma’rur dan Sa’ad bin Malik untuk membuat perjanjian pertemuan dengan Rasulullah SAW. Keduanya bertemu dengan paman beliau, Abbas bin Abdul-Muththalib yang saat itu belum masuk Islam. Namun Abbas termasuk keluarga yang melindungi Rasulullah SAW, sehingga Abbas pun meyakinkan keduanya bahwa ia bisa mengantar mereka untuk bertemu dengan Rasulullah SAW.

Ketika tiba di hadapan Rasulullah SAW, keduanya ditanya,
“Siapa Anda?”
“Saya Al Barra bin Ma’rur, dari kabilah Aus dan Khazraj.”
“Saya Sa’ad bin Malik”
“Anda ini penyair Arab yang terkenal, Sa’ad bin Malik?” tanya Rasulullah SAW.
Sa’ad menunduk, “Iya Rasulullah.”
Dipeluknya Sa’ad, “Ahlan ya Sa’ad bin Malik”

Maka disepakatilah untuk bertemu di suatu malam, yang dikenal dengan Baiat Aqabah ke-2.
Saat itu tengah malam, sekitar jam 2 atau jam 3, sekitar 70 orang Madinah, dengan dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah, berkumpul untuk berbaiat kepada Rasulullah SAW.
“Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbaiat kepada Engkau?”

Inilah klausul baiat yang disampaikan Rasulullah SAW:
1 untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas
2 untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah
3 untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar
4 untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela karena Allah

Setelah itu, Sa’ad bin Ubadah berdiri.
“Ya Rasulullah, itu adalah baiat untuk saya dengan Allah. Sekarang berikan kepada kami syarat kewajiban saya kepada Anda sendiri ya Rasulullah.”

Subhanallah..
Rasulullah SAW mengatakan, “Memangnya Anda meminta syarat antara kalian dengan saya? Apa yang kalian harapkan?”

“Yang kami harapkan Anda pindah ke Madinah.” Subhanallah..
“Dan jika Anda pindah ke Madinah, berikan syarat antara kami dengan Engkau, ya Rasulullah.”

Rasulullah SAW berkata, “Kalau saya pindah ke Madinah, Anda harus mencintai saya, membela saya seperti halnya Anda membela harta Anda, istri dan anak-anak Anda.”

Lalu Sa’ad bin Ubadah mengatakan, “Tidak perlu itu diucapkan, kami siap untuk membawamu ke Madinah. Dan kami akan berada di belakangmu, mendukungmu, seperti halnya kami menjaga keluarga kami sendiri.”

Lalu Rasulullah SAW mengatakan, “Itu pendapat kamu wahai Sa’ad. Kau memang pemimpin, tapi belum tentu anggotamu sepakat dengan kata-katamu. Saya ingin dari anggota kalian semuanya berbicara.”

Baru setelah itu, satu-satu mengatakan, “Ya Rasulullah, kami akan membela Anda sampai akhir hayat kami.”

Setelah proses baiat selesai, dan selagi mereka dicekam rasa kawatir kalau-kalau kejadian ini diketahui orang lain, tiba-tiba ada salah seorang syetan dari musyrikin yang mengetahui kejadian tersebut, lalu berteriak, “Hai orang-orang yang tertidur lelap, bangun! Kalian bangun! Itu ada pecundang sedang berkumpul untuk menghancurkan kalian. Kalian bangun semua!”

Teriakan itu membangunkan semua yang sedang tidur di tenda di Mina, karena suaranya keras sekali.

“Ya Rasulullah, siapa suara keras itu?”
Rasulullah SAW menjawab, “Itu adalah syetan yang ingin menghancurkan kita.”

Semua bangun, termasuk para pemuka Quraisy, Abu Jahal, Utbah bin Rabi’ah dan yang lainnya, mereka bertanya-tanya, benarkah ada orang berkumpul untuk menghancurkan Quraisy.

Allah ingin menguji kata-kata Sa’ad bin Ubadah dan ke-70 orang yang tadi berbaiat kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, saya akan menjaga Anda walaupun dengan nyawa saya.’

Maka melihat keadaan itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, apakah perlu aku buktikan kata-kata tadi dengan berperang saat ini juga?” Subhanallah..

“Tidak. Belum waktunya. Kembali saja ke tenda-tenda kalian,” perintah Rasulullah SAW.

Maka mereka pun kembali ke tenda masing-masing.

Keesokan paginya, syetan membisikkan pada para pemuka Quraisy bahwa yang membuat kekacauan semalam adalah orang-orang dari Madinah.

Dikumpulkan semua rombongan kloter Madinah, ditanyakan, “Siapakah di antara kalian, yang tadi malam ikut berkumpul dengan ‘si pecundang’?” Duduk semua diam.

Subhanallah.. karena memang jumlah orang Madinah yang datang berhaji banyak, maka pertanyaan tersebut selalu luput dari orang-orang yang 70 yang berbaiat semalam. Yang ditanya selalu adalah yang di luar mereka, sehingga memang jawaban yang didapat adalah, “Demi Allah, saya tidak.” Padahal yang di sebelahnya yang iya, tapi tidak ditanya.

Maka diambil kesimpulan bahwa berita itu bohong, tadi malam tidak ada perkumpulan.

Ketika tiba saatnya mereka kembali pulang ke Madinah, beberapa hari kemudian Sa’ad bin Ubadah berkirim surat kepada Rasulullah SAW,
“Assalamu’alayka ya Rasulullah. Sesungguhnya kami mengharapkan kedatanganmu dan kami merindukanmu. Silakan datang kepada kami wahai Rasulullah.”

Maka dari situ, bukan ijin hijrah lagi, melainkan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk hijrah.
Beda dengan waktu hijrah pertama ke Habasyah, waktu itu adalah ijin untuk hijrah.

Maka sejak saat itu dimulailah hijrah ke Madinah.
*tobecontinued*

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/NJSqAjmT/sirah_nabawi_10_pembukaan_hijr.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s