Sirah Nabawi -part 10- Dakwah Islam pada Selain Penduduk Mekkah

Episode 10.1
Chapter: Dakwah Islam pada Selain Penduduk Mekkah

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Rasulullah SAW kini mengarahkan dakwahnya kepada para pendatang yang datang ke kota Mekkah untuk melaksanakan thowaf di Ka’bah. Kepada mereka, beliau menerangkan Islam itu begini-begini. Namun Abu Jahal selalu mengatakan pada mereka, “Jangan dengarkan, itu orang gila, orang sinting, tukang sihir. Semua yang dikatakannya bohong.”

Walaupun dakwahnya selalu dimentahkan kembali oleh Abu Jahal, namun Rasulullah SAW tidak putus asa. Beliau tidak berhenti berdakwah.

Salah satunya adalah dakwah kepada Baiharah bin Faras, seorang pemuka dari kabilah Sha’sha’ah. Baiharah adalah orang yang pintar dan cerdas, dia dapat melihat tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah SAW.

“Dengar Baiharah, sesungguhnya Allah mengutus para nabi dan rasul kepada kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah,” kata Rasulullah SAW, seterusnya menerangkan tentang Islam.

“Muhammad, saya akan mengatakan kalimat itu. Bahkan pedang-pedangku akan berada di sampingmu, prajurit-prajurit satu kabilah Sah’sah’ah akan berada di belakangmu, siap tempur membelamu, dengan syarat, sepeninggalmu, pimpinan kekuasaan berikan padaku,” kata Baiharah.

Beliau menjawab, “Kedudukan itu hanya pada Allah. Allah yang mengaturnya menurut kehendak-Nya, bukan saya dengan Anda.”

“Ya sudah kalau begitu, saya tidak butuh agamamu,” Baiharah tetap dalam kekafirannya.

Itulah Baiharah bin Faras as Sha’sha’ah, orang yang mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah namun dia tidak mau beriman karena ingin jabatan.

Rasulullah SAW juga berdakwah kepada Suwaid bin Shamit, seorang hakim agung yang pintar dan adil, kalau sekarang mungkin jabatannya setara dengan ketua mahkamah agung. Semua permasalahan selalu dibawa kepadanya untuk mencari solusi.

Suatu saat ketika Suwaid sedang di dekat Ka’bah, Rasulullah SAW berkata kepadanya,

“Kau pernah mendengar tidak firman Allah yang indah?”

“Mau pernah, mau tidak, pokoknya saya tidak mau dengar,” kata Suwaid.

“Kenapa?” tanya beliau.

“Karena saya punya kata-kata yang jauh lebih baik daripada kata-kata yang kau punya,” jawab Suwaid.

“Coba tunjukkan padaku,” kata beliau.

Lalu Suwaid membaca Hikmah Luqman. Ternyata Hikmah Luqman ini sebelumnya sudah ada di Injil, di Taurat juga ada, dan di Al Qur’an pun kita ketahui juga ada, yakni di surat Luqman.

Siapakah Luqman ini, sehingga namanya terukir di kitab? Apakahseorang nabi? Wallahu ‘alam.

Apakah Luqman orang shalih? Pastinya.

Apakah Luqman waliyullah? Pastinya.

Yang jelas Luqman adalah orang shalih, ahli surga.

Ketika Suwaid membacakan Hikmah Luqman, Rasulullah SAW tersenyum. Karena yang dibacakan oleh Suwaid hanya kisah Luqman yang bagian akhlaq, sedangkan kisah Luqman yang lengkap berkaitan dengan 2 hal, yaitu akhlaq dan ibadah.

Kata-kata Suwaid mengalir, ‘jangan sombong, jangan kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya kamu tidak bisa menembus gunung,’ seterusnya seperti itu, tentang akhlaq.

“Itu kata-kata yang baik,” kata Rasulullah SAW, “namun yang ada padaku jauh lebih utama dari itu,” lalu beliau membacakan ayat-ayat Al Qur’an dalam surat Luqman.

“Yaa bunayya laa tusyrik billah.. Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar..” dan seterusnya Rasulullah membacakan ayat-ayat surat Luqman.

Suwaid terpana, “Demi Allah, sudah lama saya mencari potongan kisah ini, ternyata ada padamu. Demi Allah, yang tahu masalah ini bukanlah manusia biasa, tapi pasti Rasul Allah,” maka Suwaid pun masuk Islam.

Rasulullah SAW juga berdakwah kepada Thufail bin Amr. Dia adalah orang yang terpandang, penyair yang cerdas, tinggi kedudukannya dan menjadi pemimpin kabilahnya, Daus, yang jumlahnya mencapai 5-6 ribu orang.

Ketika Thufail datang ke Mekkah, maka para pemuka Mekkah pun menyambutnya. Seperti kalau presiden Obama datang ke Indonesia, maka yang menyambutnya adalah presiden SBY, kepala ketemu dengan kepala.

Abu Jahal berkata padanya, “Hati-hati Thufail, di samping Ka’bah ada orang gila, tukang sihir. Maka janganlah kau dengar kata-katanya, tutup telingamu rapat-rapat.”

Maka Thufail menutup kepalanya dengan kurpus (kerpus –terj.), hingga menutupi telinganya, bahkan menyumbatkan kapas di telinganya. Dia melihat Rasulullah SAW yang sedang berdakwah menyeru kepada orang-orang yang thowaf di Ka’bah.

Tapi setelah beberapa putaran thowaf, Thufail berpikir, ‘Kenapa aku mesti kalah? Aku adalah pemimpin Daus, aku juga seorang penyair yang cerdas. Aku bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah’.

Maka dibukalah kurpusnya, “Muhammad, coba saya dengar apa kata-katamu yang kau ucapkan pada saya.”

Rasulullah SAW membacakan Al Qur’an di depannya, sebagaimana yang menggetarkan Umar, demikian pula Thufail, Thufail pun masuk Islam.

“Muhammad,saya adalah orang yang ditaati kaumku, Daus. Apakah saya harus berada di sampingmu atau saya harus pergi ke mana?” tanya Thufail.

“Anda tidak perlu duduk bersama saya. Panggil seluruh kabilah Daus untuk masuk Islam,” kata beliau.

Maka Thufail kembali ke Daus. Di tengah perjalanan saat malam hari, Allah memberikan karamah, yakni cahaya yang memancar di keningnya, seperti senter. Namun Thufail berkata, “Ya Allah, aku berterima kasih kepada-Mu telah memberikan karomah ini, namun jangan jadikan cahaya ini di wajahku,” lalu cahaya itu beralih ke cambuknya.

Subhanallah.. jadi sahabat Rasulullah SAW yang diberikan karomah cahaya untuk di perjalanan adalah Thufail bin Amr Ad-Dausy.

Tatkala Thufail sampai di rumah, dia mengajak keluarganya masuk Islam, maka keluarganya masuk Islam. Lalu dia mengumpulkan kabilahnya, Daus, menyeru mereka untuk masuk Islam, “Demi Allah, wajahku untuk dilihat kalian haram, aku berbicara dengan kalian haram, sebelum kalian mengatakan ‘laa ilaaha illalah, Muhammad rasulullah’.” Setengah daripada kabilah Daus masuk Islam. Subhanallah.. Lihatlah, di Quraisy tidak diterima dakwahnya, tapi di luar meledak, yang masuk Islam berbondong-bondong.

Sehingga ketika futuh Mekkah, tak kurang dari 6 ribu pasukan Daus turun membantu Rasulullah SAW. Maka dikatakan, ‘Tidak ada seorang sahabatku yang membawa barokah kepada umatnya kecuali Thufail bin Amr’. Lagi jahiliyah dia diikuti, sudah Islam pun dia diikuti, itulah Thufail bin Amr.

Itulah sebagian kisah keberhasilan dakwah Rasulullah SAW kepada selain penduduk Mekkah.

*tobecontinued*

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/NJSqAjmT/sirah_nabawi_10_pembukaan_hijr.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s