Sirah Nabawi -part 8- Penghiburan dari Allah

Episode 8.5
Chapter: Penghiburan dari Allah

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Kebun tempat Rasulullah SAW beristirahat ternyata milik Syaibah bin Rabi’ah, salah seorang yang memusuhi beliau di kota Mekkah. Keesokan harinya, ketika hari sudah mulai terang, Syaibah melihat beliau yang sedang duduk di kebun dalam keadaan luka dengan bekas darah di kakinya.

Terketuklah nurani Syaibah, lalu dipanggillah pembantunya yang bernama Addas.

“Addas, tolong kau petik anggur ini, lalu berikan kepada orang yang di sana itu,” kata Syaibah.

Addas beranjak menemui Rasulullah SAW sambil membawa anggur.

“Silakan makan anggur ini,” kata Addas.

Beliau tersenyum, lalu berucap, “Bismillah,” kemudian memakan anggur itu.

“Apa yang kau katakan?” tanya Addas.

“Bismillah”

“Demi Allah, kalimat ini bukan kebiasaan yang diucapkan penduduk negeri ini,” kata Addas. Karena kalau orang Arab biasa menggunakan “Bismikallahumma”, walaupun maknanya sama, tapi “Bismillah” itu tidak pernah terdengar sebelumnya.

“Siapa namamu?” tanya beliau.

“Saya Addas, dari Ninawy (Nineveh),” jawab Addas.

“Ninawy adalah negeri orang yang shalih, Yunus ibnu Matta,” kata beliau.

Addas kaget, karena Ninawy –negeri tempat Addas berasal- adalah suatu tempat yang terpencil, tidak sembarangan orang tahu.

“Apa yang tuan ketahui tentang Yunus ibnu Matta?”

“Beliau adalah saudaraku. Beliau seorang nabi, begitu pula aku.”

Saat itu Addas langsung sujud, lalu mencium kaki Rasulullah SAW, mencium kening beliau.

Melihat itu Syaibah geram, ‘kurang ajar, disihir juga pembantuku oleh Muhammad’.

“Kenapa kau sujud kepadanya?” tanya Syaibah setelah Addas kembali.

“Dia telah mengabariku sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi. Dia adalah saudara nabiku, nabi Yunus ibnu Matta,” kata Addas.

“Terserah apa katamu,” kata Syaibah kesal.

Rasulullah SAW keluar dari kebun itu dalam keadaan murung, sedih dan hati teriris-iris. Beliau terus berjalan menuju kota Mekkah hingga tiba di suatu tempat saat menjelang subuh, beliau lalu melaksanakan sholat qiyamul lail.

Ketika sedang sholat, tiba-tiba beliau merasa gerah, panas. Kenapa gerah sekali, beliau bertanya dalam hati. Ternyata di samping-samping beliau ada jin. Kehadiran jin-jin ini merupakan kejadian yang pertama. Beliau baru tahu setelah Allah SWT menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an surat Al-Jin:

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami”

Dan seterusnya hingga ayat ke-15.

Subhanallah.. Jin  berbaiat kepada Rasulullah SAW.

“Asyhadu anla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah”

Apa hikmahnya?

Seolah-olah Allah SWT memberikan penghiburan pada beliau, ‘Muhammad, saat ini manusia tidak ada yang mendengarkan ajaranmu, tapi lihatlah saat ini ada makhluk-Ku yang lain, yakni jin, berbaiat kepadamu’.

Maka saat itu, saat manusia tidak ada yang mendengar dakwah, namun jin mendengar dakwahnya, maka saat itu jin lebih mulia daripada manusia, saat itu jin lebih pintar daripada manusia, saat itu saja. Kabilah jin yang pertama kali masuk Islam saat itu adalah kabilah Nusaybin.

Alhamdulillah, sebuah kegembiraan yang dirasakan karena ada yang mendengarkan dakwahnya, banyak yang masuk Islam dari kalangan jin, subhanallah..

Peristiwa ini merupakan pertolongan dalam bentuk lain yang diulurkan Allah dari simpanan ghaib-Nya, yang tidak diketahui kecuali Dia.

Kemudian ayat-ayat yang diturunkan dalam kesempatan itu juga terkandung kabar gembira tentang keberhasilan dakwah Rasululah SAW. Kekuatan macam apapun tidak akan mampu menghalangi keberhasilannya.

Dengan pertolongan dan adanya kabar gembira itu, riak-riak awan kesedihan dan keputusasaan menjadi tersibak, yang semenjak pergi ke Tha’if wajah beliau selalu muram, saat meninggalkan Tha’if menuju Mekkah bertambah muram.

Kini, beliau menyusun langkah baru untuk menyebarkan Islam dan menyampaikan risalah Allah yang abadi, dengan semangat baru dan optimisme baru pula.

*tobecontinued*

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/wpYebq5w/sirah_nabawi_09_boikot.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s