Sirah Nabawi -part 8- Pembatalan Piagam Pemboikotan

Episode 8.2
Chapter: Pembatalan Piagam Pemboikotan

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Sebenarnya orang-orang Quraisy sendiri terbagi antara setuju dan tidak setuju terhadap pemboikotan tersebut. Maka yang tidak menyetujuinya berusaha untuk membatalkannya. Yang melakukan hal itu adalah pemuda-pemuda Arab.

Yang pertama kali mencetuskan ide untuk membatalkan piagam pemboikotan adalah Hisyam ibn Amr. Dia biasa berhubungan dengan Bani Hasyim pada malam hari sambil membawakan makanan untuk mereka.

Hisyam berpikir bahwa tidak mungkin dia membatalkan piagam seorang diri, maka dia mencari teman. Ditemuinya Zuhair ibn Abi Umayyah.
“Hai Zuhair, kau enak-enakan menikmati makanan dan minuman, sementara kau juga tahu apa yang menimpa mereka yang diboikot, kau setuju dengan pemboikotan itu?”
“Tidak,” kata Zuhair, “Tapi apa yang bisa kuperbuat, sementara aku hanya sendirian? Demi Allah, andaikata aku didukung orang lain, piagam itu tentu sudah kubatalkan.”
“Engkau sudah mendapatkan orang itu,” kata Hisyam.
“Siapa?” tanya Zuhair.
“Aku sendiri,” jawab Hisyam.
“Kalau begitu, cari orang ketiga agar bisa bergabung bersama kita!”

Lalu Hisyam menemui Al-Muth’im bin Ady.
“Apa yang bisa kuperbuat, sementara aku hanya sendirian?” kata Al-Muth’im.
“Engkau telah mendapatkan orang kedua,” kata Hisyam.
“Siapa?”
“Aku sendiri,” jawab Hisyam.
“Kalau begitu, cari lagi orang ketiga!”
“Aku sudah melakukannya.”
“Siapa?” tanya Al-Muth’im.
“Zuhair bin Abu Umayyah,” jawab Hisyam.
“Cari lagi orang keempat agar bisa bergabung bersama kita!”

Lalu Hisyam pergi menemui Abul-Bakhtary bin Hisyam.
“Adakah orang lain yang mendukung rencana ini?” tanya Abul-Bakhtary.
“Ya, ada,” kata Hisyam.
“Siapa?” tanya Abul-Bakhtary.
“Zuhair bin Abu Umayyah, Al-Muth’im bin Ady, aku sendiri dan engkau.”
“Cari lagi orang kelima!”

Lalu dia menemui Zam’ah ibn Abul-Aswad.
“Adakah seseorang yang mendukung rencanamu ini?”
“Ada,” jawab Hisyam, lalu dia menyebutkan orang-orang di atas.

Maka kelima pemuda ini berkumpul di suatu tempat yang terpencil dan bersepakat untuk membatalkan piagam. Pemuda-pemuda yang masih gagah, kuat, berani, bersatu untuk cita-cita menghancurkan sesuatu yang hampir mustahil, yakni menghapuskan pemboikotan.

“Aku yang akan memulai dan aku pula yang akan pertama berbicara,” kata Zuhair.
Esok harinya mereka pergi ke tempat-tempat yang biasa digunakan untuk pertemuan yaitu di dekat Ka’bah.

Zuhair naik ke atas tangga pintu Ka’bah lalu berseru,
“Wahai semua penduduk Mekkah, kita bisa menikmati makanan dan mengenakan pakaian, sementara Bani Hasyim binasa, tidak diperkenankan berjual beli. Demi Allah, aku tidak akan duduk kecuali setelah piagam yang zhalim dan kejam ini dirobek. Kita batalkan perjanjian.”
“Celaka kamu, apakah kau akan hancurkan perjanjian itu?” tanya Abu Jahal.
“Engkau jauh lebih celaka,” kata Zam’ah bin Al-Aswad, “Sebenarnya dulu pun kami tidak rela saat piagam itu ditulis.”
“Benar,” kata Abul-Bakhary, “Dulu kami tidak rela terhadap penulisan piagam itu dan kami juga tidak ikut menetapkannya.”
“Benar,” sahut Al-Muth’im bin Ady, “dan siapa yang berkata selain itu dusta. Kami menyatakan kepada Allah untuk membebaskan diri dari piagam itu dan apa yang tertulis di dalamnya.”

Lalu Al-Muth’im bangkit menghampiri piagam untuk merobeknya. Namun ternyata piagam perjanjian sudah hampir habis semuanya dimakan rayap, kecuali penggal tulisan “bismikallahumma”.

“Lihat! Rayap saja tidak setuju dengan perjanjian ini. Celaka nasibmu wahai bangsa Arab jika kalian meneruskan hal ini. Lihat! Semua habis dimakan rayap, kecuali tulisan ‘bismikallahumma’”

Akhirnya piagam itu benar-benar dirobek dan dibatalkan. Rasulullah SAW dan para pengikutnya bebas dari pemboikotan.

Rasululah SAW menghargai kelima pemuda ini. Ketika terjadi perang Badar, beliau mengingatkan untuk tidak membunuh kelima pemuda tersebut. Beliau tidak pernah melupakan orang-orang yang baik kepada beliau. Subhanallah..

*tobecontinued*

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/wpYebq5w/sirah_nabawi_09_boikot.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s