Sirah Nabawi -part 8- Pemboikotan

Episode 8.1
Chapter: Pemboikotan

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Setelah Umar bin Khaththab masuk Islam, disusul dengan Rasulullah SAW yang menolak tawaran orang-orang kafir Quraisy, kemudian disusul dengan adanya kesepakatan bersama keluarga yang dekat dengan beliau untuk melindungi beliau, maka orang-orang kafir merasa bingung harus bagaimana untuk menghalangi dakwah Islam. Mereka kawatir Islam semakin jadi besar dan Rasulullah SAW akan menguasai kota Mekkah.

Para pemuka Quraisy lalu berkumpul untuk membuat kesepakatan bersama menghadapi Bani Hasyim, Bani Abi Thalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Abdul Muththalib, yakni pemboikotan kepada mereka, mereka semua adalah keluarga yang dekat dengan Rasulullah SAW.

Isinya adalah: larangan menjual apapun kepada mereka, larangan membeli apapun dari mereka, larangan menikah dengan mereka, larangan berteman, berkumpul, memasuki rumah mereka, berbicara dengan mereka, kecuali kalau mereka menyerahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh. Ini berlaku untuk semua orang Mekkah, dan pendatang yang mengunjungi Mekkah.

Untuk keperluan ini, mereka menulis naskah asli piagam pemboikotan yang digantungkan di tembok bagian dalam Ka’bah, sedangkan salinannya ditempel di mana-mana. Naskah ini dimulai dengan perkataan: bismikallahumma, lalu seterusnya isi poin-poin pemboikotan.

Bani Hasyim, Bani Abi Thalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Abdul Muththalib bergabung menjadi satu, yang mukmin maupun yang kafir, kecuali Abu Lahab. Mereka mulai diisolir, diboikot, pada tahun ketujuh dari nubuwah. Pemboikotan berlangsung selama 3 tahun berturut-turut.

Pemboikotan ini benar-benar ketat, benar-benar menyengsarakan sehingga  keturunan menjadi berkurang, memang pemboikotan ini disengaja agar keturunan Islam menjadi sedikit.

Cadangan dan bahan makanan pun habis. Sementara orang-orang kafir tidak membiarkan bahan makanan yang masuk ke Mekkah atau barang yang hendak dijual melainkan mereka langsung memborong semuanya. Kalaupun ada bahan makanan yang bisa masuk, maka itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Kelaparan melanda. Tidak jarang terdengar suara para wanita dan anak-anak yang merintih karena kelaparan. Keadaan sangat mengenaskan.

Akhirnya mereka hanya bisa makan dedaunan dan kulit binatang. Begitu halnya dengan Rasulullah SAW, beliau makan kulit unta yg sudah kering. Kulit unta tersebut direbus terus-terusan, dan karena air pun tidak ada, maka kulit itu dipotong kecil-kecil, lalu dimasukkan ke dalam mulut, sampai kulit itu agak lumer karena air ludah, sehingga bisa dikunyah, dan ditelan.

Demikian juga dengan air, yang diminum adalah air dari kotoran unta. Kalau ada kotoran unta, maka dilihat, apakah masih ada airnya, kalau ada, maka diperas, lalu airnya diminum.

Demikian halnya ketika ada bangkai hewan apa saja, maka diambil, dibelah lalu dibagi-bagi.

Inilah hukum ushul fiqih tentang makanan, adalah bahwa apabila dalam keadaan darurat, maka segala sesuatu hukumnya menjadi mubah untuk dimakan.

Tapi hukum mubah ini, hanya sebatas makan untuk menahan lapar, bukan makan untuk mendapatkan kekenyangan. Dan bolehnya hanya di situ saja, saat itu saja, tidak boleh disimpan untuk nanti, karena urusan nanti makan apa, kembali tawakal pada Allah SWT.

Misal, dalam keadaan lapar, sementara di tengah padang pasir tidak ada makanan, lalu ada babi, tak ada yang lain, maka dibolehkan makan babi itu, mubah, tapi hanya sebatas makan sekedarnya untuk menahan lapar, agar tidak mati kelaparan, bukan untuk supaya kenyang makan babi. Jadi cukup sesuap-duasuap, yang penting laparnya hilang.

Abu Thalib juga termasuk yang diboikot dan mulai sakit-sakitan karena gizi kurang. Namun Abu Thalib selalu kawatir terhadap keselamatan Rasulullah SAW. Jika semua orang sudah berbaring di tempat tidurnya, maka dia menyuruh beliau untuk tidur di atas tempat tidurnya, sehingga dia bisa tahu jika ada seseorang yang hendak menikam beliau secara sembunyi-sembunyi. Jika semua orang sudah tidur, dia menyuruh salah seorang anak, saudara atau kerabatnya untuk tidur bersama beliau, juga memerintahkan sebagian di antara mereka untuk membawa serta tempat tidurnya.

Tapi Rasulullah SAW bersama orang-orang muslim tetap keluar pada musim haji untuk menemui orang-orang dan menyeru mereka ke dalam Islam.

Pemboikotan berlangsung selama 3 tahun berturut-turut, dari tahun ketujuh nubuwah hingga tahun kesepuluh.

*tobecontinued*

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link : http://www.4shared.com/mp3/wpYebq5w/sirah_nabawi_09_boikot.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s