Sirah Nabawi -part 7- Islamnya Umar bin Khaththab

Episode 7.3
Chapter: Islamnya Umar bin Khaththab

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Di tengah udara yang pengap karena dipenuhi hawa kesewenang-wenangan dan kezhaliman, menyeruaklah seberkas cahaya terang, yaitu ke-Islaman Umar bin Khaththab.

Memang sangat disadari bahwa dakwah Islam ini perlu seseorang yang kuat, gagah berani, pintar dan berwibawa. Ternyata orang seperti itu di Mekkah ada 2 orang , yaitu Umar bin Khaththab dan Amrun bin Hisyam (Abu Jahal).

Maka Rasulullah SAW berdoa minta kepada Allah,

“Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan ke-Islaman salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, salah satu dari yang namanya Umar, yaitu dengan Umar bin Khaththab atau dengan Amrun bin Hisyam.”

Ternyata orang yang paling dicintai Allah SWT adalah Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu. Doa Rasulullah SAW terkabul dengan masuk Islamnya Umar bin Kaththab beberapa waktu kemudian.

Umar dikenal sebagai orang yang menjaga kehormatan dirinya dan memiliki watak yang temperamental, tidak pernah lembut hatinya, kasar, galak. Perawakannya tinggi besar, kekar badannya, kuat. Tidak pernah ada yang bisa mengalahkan Umar, dalam peperangan, adu gulat, duel, adu argumen atau berdebat. Umar paling dihargai dan diakui kekuatannya oleh seluruhnya.

Sebelum masuk Islam, Umar adalah orang kafir yang sangat memusuhi Islam. Setiap kali Umar berpapasan dengan orang-orang muslim, pasti Umar menimpakan berbagai macam siksaan.

Suatu pagi Umar keluar rumah sambil menghunus pedangnya, dengan maksud untuk membunuh Rasulullah SAW. Di tengah jalan, Umar berpapasan dengan Nu’aim ibn Abdullah An-Nahham. Nu’aim adalah seorang muslim tapi masih menyembunyikan ke-Islamannya, orang lain belum tahu kalau Nu’aim muslim.

Melihat Umar yang berjalan dalam keadaan marah sambil menghunus pedangnya, bertanyalah Nu’aim,

“Hendak ke mana kau wahai Umar?”

“Aku akan membunuh Muhammad”

Paniklah Nu’aim, dengan cepat Nu’aim memutar otak.

Lalu Nu’aim memperingatkan Umar,

“Wahai Umar, kalau kau membunuh Muhammad, nanti Bani Hasyim dan Bani Zuhrah akan memberikan pembalasan, menyerangmu. Apakah kau kira kau akan selamat dari mereka yang jumlahnya begitu banyak?”

Namun Umar tak peduli.

Nu’aim tetap berusaha mengalihkan maksud Umar, dengan menceritakan hal lain yang perlu dipikirkan Umar,

“Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini kau peluk, dan kini beriman kepada ajaran yang dibawa Muhammad, orang yang hendak kau temui dan kau bunuh itu”

Umar kaget,

“Adikku, Fatimah masuk Islam?”

“Ya”

Demi mendengar berita mengejutkan tersebut, Umar segera mengubah tujuan, pergi ke rumah adik perempuannya dengan dada yang bergemuruh penuh kemarahan. Dengan terburu-buru Umar berlalu hingga tiba di rumah Fatimah, adik perempuan yang sangat disayanginya.

Saat itu Fatimah bersama suaminya, Said ibn Zaid, sedang belajar Al Qur’an. Yang mengajarkannya adalah Khubbab bin Al-Art. Karena perintah dari Rasulullah SAW, kalau ada yang baru masuk Islam, maka yang sudah masuk Islam lebih dulu lah yang mengajarinya.

Tatkala mendengar suara kedatangan Umar, Khubbab segera menyingkir ke bagian belakang ruangan, sedangkan Fatimah segera menyembunyikan lembaran (shahifah) yang berisi ayat-ayat Al Qur’an.

Namun ketika mendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Al Qur’an.

“Apa yang kalian baca?” tanya Umar tatkala sudah masuk rumah.

“Kami tidak membaca apa-apa,” jawab Fatimah begitu melihat Umar yang menghunus pedangnya dengan kalap.

“Demi Tuhan, aku telah mendengar kabar bahwa kamu berdua telah mengikuti ajaran agama Muhammad!”

“Wahai Umar,” kata Said, “Apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”

Seketika itu juga Umar melompat ke arah Said dan menginjaknya keras-keras. Fatimah berusaha menolong suaminya, namun tangan Umar langsung mendarat di wajahnya, Fatimah jatuh dan berdarah.

Melihat darah yang meleleh dari wajah adik perempuannya yang sangat disayanginya dan dijaganya selama ini justru terluka oleh tangannya sendiri, Umar jatuh iba, menyesal atas perbuatannya. Umar memang berwatak keras, namun di saat yang sama, ia juga adalah seorang pengiba.

“Mana yang kalian baca? Berikan yang tadi kalian baca!” kata Umar.

“Aku tidak akan memberikannya,” jawab Fatimah.

“Demi Latt dan Uzza, aku tidak akan merusak sesuatu yang kau baca tadi, aku akan menjaga apa yang kau baca,” Umar bersumpah. Dan kalau Umar sudah bersumpah, maka ia tidak mungkin akan melanggar sumpahnya.

“Demi Allah, yang aku baca adalah firman Allah yang suci. Sedangkan kau adalah orang kafir, kau najis karena kesyirikanmu. Karena itu mandilah terlebih dahulu sebelum kau menyentuhnya,” kata Fatimah.

Maka Umar segera mandi. Setelah itu Umar meminta kepada Fatimah, “Mana?”

Fatimah pun memberikan shahifah Al Qur’an. Umar mulai membacanya, yaitu Al Qur’an surat Thoha.

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.”

Umar tersentuh, hatinya melembut. Shahifah Al Qur’an itu didekapnya di dadanya.

Lalu Umar melanjutkan membaca lagi, sampai di satu kalimat yang begitu indah,

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. “

Umar menunduk, shahifah Al Qur’an itu didekapnya di dadanya. Lalu dibacanya lagi,

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”

Umar mendekap shahifah Al Qur’an itu, lalu menciumnya, lalu mendekapnya lagi.

“Alangkah indah dan mulianya kalam ini,” kata Umar, “Demi Allah. Kalam ini bukan kalimat dari manusia,” Umar cerdik, pintar, dan paham bahasa. Umar terkagum-kagum dan terkesan dengan ayat Al Qur’an yang dibacanya itu. Jiwanya bergetar sehinga muncullah tekad dalam dirinya untuk segera menemui Rasulullah SAW dan menyatakan ke-Islamannya.

“Tolong antarkan aku kepada Muhammad,” kata Umar.

Tatkala mendengar perkataan Umar seperti itu, Khubbab segera menampakkan dirinya.

“Terimalah kabar gembira wahai Umar. Demi Allah, aku telah mendengar doa Rasulullah, ‘Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan ke-Islaman salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai’. Mungkin hari ini adalah terijabahnya doa Rasulullah. Ayo saya antar,” kata Khubbab.

Umar memungut pedangnya dan menghunusnya kembali. Dengan diantar oleh Khubbab, Umar pergi menuju ke tempat Rasulullah SAW.

*tobecontinued*

kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link :

http://www.4shared.com/mp3/-_6HYwpd/sirah_nabawi_08_hijrah_pertama.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s