Sirah Nabawi -part 3- Khadijah binti Khuwailid

Episode 3.8
Chapter: Khadijah binti Khuwailid

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Ketika usia Rasulullah SAW 24 tahun, di kota Mekkah ada seorang perempuan terhormat, bangsawan terpandang, kaya raya, cantik dan pintar. Namanya Khadijah binti Khuwailid.

Khadijah sudah kaya sebelum menikah, kekayaannya bertambah melimpah sesudah menikah. Suaminya yang pertama, bernama Atik bin A’id al Makhzumi, wafat dan mewariskannya harta yang banyak. Suaminya yang ke-2, bernama Abu Halah bin Nibasy at-Tamimi, juga orang yang sangat kaya, wafat pula dan kekayaannya jatuh pada Khadijah. Subhanallah..

Ketika suami pertama meninggal, maka sedihlah hati Khadijah. Namun, beliau masih mau menikah lagi. Ketika suami yang ke-2 meninggal juga, maka Khadijah pun trauma, sehingga tidak mau menikah lagi.

Jadi ketika banyak bangsawan yang datang meminangnya, para pejabat tinggi kota Mekkah, juga para saudagar kaya, Khadijah menolak mereka semua, maaf, saya tidak mau menikah lagi. Karena beliau masih trauma, dua kali menikah, dua-duanya meninggal. Subhanallah..

Demikianlah Khadijah sehari-harinya hanya di rumah, jarang keluar. Kekayaannya yang melimpah dipercayakan pengurusannya kepada sekretarisnya, sahabat dekatnya, seorang wanita bernama Maisarah. Khadijah hanya sesekali mengontrol perkembangan bisnis perdagangannya kepada Maisarah.

Walaupun hanya di rumah saja, namun kabar tenarnya Muhammad Al-Amin sampai pula ke telinga Khadijah. Subhanallah.. maka berkatalah Khadijah kepada Maisarah,

“Wahai Maisarah, apakah kau pernah mendengar tentang yang banyak dibicarakan orang, kalau di Mekkah ini ada seorang laki-laki yang namanya Muhammad Al-Amin, Muhammad yang terpercaya. Kau tahu?”

“Ya, siapa yang tidak tahu dengan Muhammad Al-Amin? Semua orang tahu tentangnya,” jawab Maisarah.

“Kita kan sudah lama berdagang, bagaimana menurutmu, kira-kira Muhammad mau tidak mengelola bisnis hartaku, berdagang ke daerah Syam (Syiria)?” tanya Khadijah.

“Benar juga”

“Kalau begitu, Maisarah, bicaralah kepada Muhammad.”

Khadijah sendiri belum pernah bertemu Rasulullah SAW, hanya mendengar saja tentang kabar ketenaran beliau sebagai Muhammad Al-Amin.

Maka Maisarah datang menemui Rasulullah SAW,

“Wahai Muhammad, saya adalah orang kepercayaan Khadijah, hendak meminta kerjasama denganmu.”

Wah, senang sekali Rasulullah SAW dipercaya oleh Khadijah, seorang bangsawan terpandang. Maka beliau pun berangkat berdagang ke Syam dengan membawa harta milik Khadijah.

Dalam perjalanan, rombongan kafilah mereka melewati Bushra, tempat yang sama seperti ketika Rasulullah SAW saat usia 12 tahun untuk pertama kalinya ikut berdagang bersama pamannya ke Syam. (Masih ingat kan peristiwa “Bertemu Bahira dan Peringatan dari Bahira” di beberapa chapter sebelumnya?)

Nah, kali ini pun, di Bushra ada pendeta nasrani yang mengamati bahwa rombongan kafilah beliau selalu dinaungi oleh awan.

Maka, ketika melihat rombongan kafilah itu berhenti, pendeta nasrani ini pun bergegas menghampiri kafilah tersebut.

*tobecontinued*


kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link :

http://www.4shared.com/mp3/6MplFFAo/sirah_nabawi_04_masa_remaja_ro.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s