Sirah Nabawi -part 3- Dalam Belaian Kasih Ibunda

Episode 3.1
Chapter: Dalam Belaian Kasih Ibunda

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan kita, Nabi yang paling mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa salam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan seluruh kaum muslimin yang setia menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, kita lanjutkan sirah nabawi-nya..

Sekitar umur 2 tahun lebih, belum 3 tahun, Rasulullah SAW kembali ke pangkuan ibu kandungnya, bunda Aminah.

Kehidupan Rasulullah SAW bersama bunda Aminah tidak termasuk orang yang berada, tidak pula termasuk orang yang menengah, tetapi hanya tergolong cukup, bahkan malah bisa dikatakan miskin. Kadang dalam sehari hanya makan pagi saja, siang tidak ada sesuatu untuk dimakan. Terkadang siang makan, sore tidak. Seperti itulah kira-kira kehidupan beliau bersama ibunda tercinta. Subhanallah..

Rasulullah SAW tinggal bersama ibunda tercinta dari umur 2 tahun sampai 6 tahun. Mereka berdua ditemani oleh seseorang yang sering membantu bunda Aminah, namanya Ummu Aiman.

Ketika beliau menginjak umur 6 tahun, bunda Aminah mengajaknya untuk berziarah ke makam ayahnya, Abdullah, di Madinah (saat itu, Madinah masih bernama Yastrib).

Perlu diketahui bahwa ibunya, Aminah, dibesarkan di kota Madinah, sedangkan ayahnya, Abdullah, dibesarkan di kota Mekkah, jadi kepergian Rasulullah SAW ke Madinah ini juga untuk mengenal keluarganya di Madinah.

Subhanallah.. Apa hikmahnya?

Yaitu Allah SWT hendak mengajarkan kepada Rasulullah SAW, mengenalkan kota Madinah kepada beliau, karena kelak beliau akan hijrah dan tinggal di Madinah. Maka kini, lihatlah olehmu situasi Madinah ini, sehingga ada bayangan, supaya tidak buta-buta amat ketika kelak harus hijrah ke Madinah, lihatlah Madinah begini, Madinah begitu..

Artinya Allah SWT sudah perkenalkan hal-hal begini saat Rasulullah SAW berumur 6 tahun. Subhanallah.. Beliau sudah dipersiapkan sejak umur 6 tahun. Subhanallah.. itulah rahasia kenapa beliau pada umur 6 tahun sudah harus berkunjung ke kota Madinah.

Jadi walaupun di dalam kitab sejarah dikatakan bahwa alasan pergi ke Madinah adalah untuk berziarah ke makam ayahnya, tapi sesungguhnya hakikat tujuan utamanya bukan itu, bukan hanya sekedar ingin tahu di mana makam ayahnya, melainkan hakikatnya adalah rahasia hikmah yang diungkapkan di atas.

Sepulangnya dari kota Madinah, setelah ziarah ke makam ayahnya, setelah diberitahukan beginilah wafatnya ayahmu, di sinilah makamnya, dan seterusnya, tidak lama setelah itu, dalam perjalanan tidak jauh dari makamnya, tiba-tiba bunda Aminah sesak napas, dan kemudian wafat di pangkuan Rasulullah SAW. Subhanallah.. umur 6 tahun beliau sudah diperlihatkan meninggalnya ibunda tercinta.

Subhanallah.. Apa hikmahnya?

Allah SWT hendak mengajarkan kepada Rasulullah SAW, bahwa engkau tidak usah terlalu sibuk memikirkan dunia, tidak terlalu mengikatkan hati dan pikiran pada dunia. Semua manusia akan mati, sebabnya hanya Allah SWT yang tahu. Kematian adalah suatu hal yang haq, yang pasti. Lihatlah ibumu wafat mendadak, tidak sakit panjang, tapi hanya sakit sebentar, hari itu sakit, hari itu wafat.

Subhanallah.. umur 6 tahun Rasulullah SAW sudah dididik bahwa kematian itu adalah suatu itsba’-ketetapan, hal yang harus. Beliau dididik karena akan dijadikan seorang nabi dan rasul, maka beliau diuji dan diberikan pelajaran. Ujiannya sedih, pelajarannya bahwa kematian bisa menjemput kapan saja. Subhanallah..

Maka dibantu Ummu Aiman, Rasulullah SAW menggali kuburan untuk ibunda tercinta. Subhanallah.. walaupun masih kecil, masih umur 6 tahun, namun beliau melakukan sendiri proses penguburan jenazah ibunda tercinta.

Sehingga ada beberapa pendapat para ulama, bahwa kalau orang tua meninggal, maka yang seharusnya menggali kuburannya adalah anaknya sendiri.

Namun realitasnya kini, adakah sekarang anaknya sendiri yang menggali kubur untuk bapak-ibunya yang sudah meninggal -minimal mengukur kuburnya-? Sudah hampir tidak ada. Yang ada cuma nanya, sudah siap kuburannya?

Padahal ketika si anak lahir, kasurnya saja “diemplek-emplek” oleh ibunya, supaya si anak enak tidurnya, dibuatlah ayunan agar tidur nyenyak. Bapak-ibunya sibuk menyiapkan tempat tidur terbaik untuk si anak. Lalu kini, ketika bapak-ibunya meninggal, siapa yang membuat kuburannya? Orang lain. Padahal kuburan ini adalah tempat tidur bapak-ibunya.

Maka setelah menguburkan ibunda tercinta, beliau kembali melanjutkan perjalanan pulang ke kota Mekkah. Betapa sedihnya Rasulullah SAW, berangkat dari Mekkah bertiga dengan ibunda tercinta, namun pulang hanya berdua dengan Ummu Aiman.

*tobecontinued*


kisah ini dalam versi audio mp3 Ceramah oleh ustadz Abi Makki bisa didownload atau streaming dari link :
http://www.4shared.com/mp3/6MplFFAo/sirah_nabawi_04_masa_remaja_ro.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s