Book Review: To Kill A Mockingbird

Buku ini akan menjadi buku fave-ku sepanjang masa.. TOP BGT! Serasa sudah lama banget ga ketemu buku yang bagus, tapi baca buku ini, mengobati rasa kehilangan itu.. alhamdulillah..

Membaca halaman awal buku cerita setebal 533 halaman ini, benar-benar sebuah upaya yang tidak ringan. Tidak terlalu paham apa yang dimaksud penulisnya, tapi biarlah, tetap saja dibaca halaman demi halamannya, mungkin nanti juga akan mengerti.

To Kill A Mocking Bird

To Kill A Mocking Bird

Cerita ini dikisahkan dari sudut pandang Scout, seorang gadis tomboy berusia 7 tahun, yang ke mana-mana selalu berdua dengan abangnya yang 4 tahun lebih tua darinya, Jem. Membaca buku ini jadi mengingatkan saya pada buku Totto-chan, yang juga dikisahkan dari sudut pandang seorang gadis kecil.

Jem dan Scout adalah dua bersaudara yang dibesarkan oleh single parent, seorang ayah yang berprofesi sebagai pengacara, Atticus Finch. Mereka tinggal di Maycomb, sebuah kota tua di Alabama, salah satu negara bagian Amerika Serikat yang berada di bagian selatan.

Kisah ini memenangi Pulitzer Award 1961, dengan pusat cerita pada masalah yang harus dihadapi keluarga kecil itu ketika Atticus ditunjuk menjadi pembela bagi seorang kulit hitam yang didakwa telah melakukan tindak pidana memperkosa seorang gadis kulit putih.

Proses pengadilan yang digambarkan secara jelas dalam beberapa bab buku ini mencoba mengurai makna kesamaan derajat, bahwa semua manusia diciptakan sederajat, tanpa pandang bulu, dia kulit putih atau tidak.

Apakah Atticus dapat memenangkan kasusnya dan dapat menyelamatkan kliennya si Negro yang diancam hukuman mati? Silakan baca bukunya 🙂

Buku ini juga menceritakan hari-hari Jem dan Scout, masa kanak-kanak yang dilewatkan dengan bermain di lingkungan sekitar rumah, masa-masa belajar di sekolah, atau bermain di liburan musim panas.

Tentang rasa ingin tahu mereka kepada salah seorang tetangga yang tidak pernah tampak keluar rumah selama bertahun-tahun, sehingga banyak rumor yang menyeramkan mengenai tetangga tersebut.

Saya pribadi lebih terkesan dengan nilai lain dari cerita ini. Yaitu bagaimana seorang ayah membesarkan dua anaknya, berusaha menjadi teladan bagi mereka, sehingga anak-anak ini nantinya akan bisa menjadi orang yang terhormat, yang berani memperjuangkan kebenaran, sepahit apapun resiko yang harus dihadapi. Bagaimana Atticus harus menghadapi si kecil Scout yang merajuk tidak mau sekolah, bagaimana Atticus mendidik si abang Jem yang besar rasa ingin tahunya.

Salah satu hal yang menarik adalah kebiasaan membaca yang ditanamkan oleh Atticus sejak Jem dan Scout masih kecil. Kegiatan keluarga tersebut saat berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam adalah membaca bersama. Bahkan ketika masing-masing masuk ke kamar tidurnya, rutinitas yang dilakukan sembari menunggu kantuk adalah membaca di tempat tidur dengan penerangan lampu baca. Subhanallah, coba kalau kita membiasakan anak-anak kita seperti itu, pasti mereka akan lebih gemar membaca dan cinta ilmu.

Hal yang menarik lainnya adalah Atticus terkadang juga membicarakan kasus yang sedang ditanganinya kepada Jem dan Scout, dalam batas yang bisa mereka pahami, pun kalau keduanya tidak mengerti, tidak masalah, suatu hari nanti juga akan mengerti. Dengan sabar Atticus menjelaskan kata-kata yang baru mereka dengar yang tidak dipahami artinya.

Sebuah paragraf dari buku ini mengisahkannya,
“Aku (Scout -red) dan Jem sudah terbiasa dengan diksi ayah kami yang lebih cocok diterapkan pada surat wasiat, dan kami bebas menyela Atticus kapan pun untuk memintanya menjelaskan kata-kata itu kalau ucapannya tak kami mengerti.”

Sepakat dengan Atticus, ketika dia meluruskan adiknya, si Paman Jack, yang menghindar dengan menceritakan hal lain ketika Scout bertanya padanya apa arti wanita jalang. Anak-anak adalah anak-anak. Jangan menghindar, berilah jawaban yang sesuai dengan usia mereka.

Seperti suatu ketika Scout bertanya pada Atticus, ”Memerkosa itu apa?” Atticus menjelaskannya dengan menggunakan diksi bahwa memerkosa adalah pelecehan badaniah terhadap seorang perempuan dengan pemaksaan dan tanpa persetujuan.

Maka, tak heran, jika kedua anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang kritis.

Nah, bagian yang paling mengagumkan adalah bagaimana si kecil Scout berupaya “menyelamatkan” sang ayah yang dikepung oleh orang-orang yang bermaksud menyerangnya. Tegang, mendebarkan, kagum, sekaligus geli membayangkan seorang gadis kecil mencoba mengulur waktu dengan mengajak bicara salah seorang yang mengepung.

Di saat yang kritis, di mana nyawa Atticus terancam karena serangan bisa terjadi setiap saat, si gadis kecil Scout mengajak bicara salah seorang lelaki yang mengepung mereka, lelaki yang hanya dia ketahui dari cerita ayahnya, mencoba mencari topik untuk bahan pembicaraan, akhirnya yang dibicarakannya adalah tentang sengketa warisan yang dialami lelaki itu karena Atticus pernah menceritakannya saat menangani kasus itu. Bagian ini benar-benar menyentuh sisi manusiawi siapapun.

Yang lebih mengagumkan lagi, Atticus menekankan pada mereka untuk menjadi anak yang terhormat. Walaupun orang lain mencaci dan menghina dengan kata-kata kasar, kata Atticus, “Tegakkan kepalamu tinggi-tinggi dan tahan keinginanmu untuk memukul. Apa pun yang dikatakan orang kepadamu, jangan dimasukkan ke hati. Cobalah untuk melawan mereka dengan pemikiranmu..”

Dengan permintaan dari ayahnya tersebut, si kecil Scout yang karakternya pemarah, menjadi lebih menahan diri. Ketika dia marah dan bersiap memukul teman yang menyinggungnya, dia teringat perkataan Atticus, lalu menurunkan kepalannya, dan pergi meninggalkannya.

Teriakan “Scout pengecut!” tak dihiraukannya. Baginya, “Aku merasa, kalau aku berkelahi, aku akan mengecewakan Atticus. Atticus sangat jarang meminta aku dan Jem melakukan sesuatu untuknya, jadi aku bisa menerima sebutan pengecut demi dia. Aku merasa sangat mulia karena aku mengingat nasihatnya.”

Jem dan Scout adalah anak-anak yang luar biasa hasil dari didikan yang baik.

Itulah sebagian nilai yang dapat diambil dari buku ini.

Lalu, apa hubungannya dengan judulnya “Membunuh Mocking Bird” ?

Mocking bird adalah sejenis murai bersuara merdu. Mocking bird adalah burung penyanyi. “Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung. Mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mocking bird itu dosa”, itulah jawaban yang diberikan ketika si Scout bertanya tentang mocking bird ini.

Jadi, apa maksud judulnya? Pertanyaan ini akan terjawab jika Anda sudah menyelesaikan membaca buku ini sampai di akhir cerita.

Satu hal yang saya garis bawahi, ini penting untuk diperhatikan. Ada kalimat yang sebenarnya tidak perlu dikatakan, menurut saya, karena tak ada pun, tidak mempengaruhi keseluruhan kisah ini. Tapi entah kenapa, penulis mencantumkannya juga. Yaitu tentang Yahudi.

Dalam suatu dialog di kelasnya Scout, gurunya memuji kaum Yahudi. “Tak ada orang yang lebih baik di dunia ini daripada kaum Yahudi.” Ketika seorang teman Scout bertanya kenapa Hitler tidak menyukai mereka, guru tersebut menjawab, “Kalau sudah SMA, kau akan mempelajari bahwa kaum Yahudi sudah ditindas sejak awal sejarah, bahkan diusir dari negara mereka sendiri. Itu salah satu kisah paling buruk dalam sejarah.”

Saya sarankan bagi yang memiliki buku ini, untuk memberi/menyelipkan catatan kecil yang meluruskan tentang siapa sebenarnya kaum Yahudi laknatullah ini.

Akhirnya, selamat menikmati sajian cerita menarik dalam buku To Kill A Mocking Bird. Happy reading 🙂

Quote:
“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya.. hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” (Harper Lee, dalam To Kill a Mocking Bird)

Jakarta, 27 Nov 2008

diposting di link: goodreads

dan di mpid: mosquelife

Advertisements
By itsmuhammadalfatih Posted in book Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s